LombokPost-Kemarau berkepanjangan menyebabkan belasan desa di Lombok Barat (Lobar) mengalami krisis air.
Sebagian warga pun mengalami kerugian akibat panen padi yang sudah tak tertolong lagi.
“Sudah tidak ada harapan. Sungai sudah kering,” kata Kepala Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat, Hamdani, Senin (30/9).
Hamdani menjelaskan, luas lahan sawah yang terdampak kekeringan sekitar 225 hektare. Dengan kemungkinan perkiraan hasil panen satu hektare sawah bisa mencapai 5 ton padi, dengan harga Gabah Kering Giling (GKG) Rp 8 juta per ton.
“Sekitar satu miliaran lah kalau dihitung kasar kerugiannya,” terangnya.
Pada musim kering, biasanya petani menanam tanaman lain pengganti padi. Seperti palawija, kacang panjang, kedelai, dan lain-lain.
Namun kondisi saat ini, dari 75 persen warga petani yang terdampak sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan penanaman.
“Ini sangat kritis sekali,” sebutnya.
Kondisi ini membuat ketersediaan pangan masyarakat juga berkurang. Pihak desa berupaya melakukan permohonan kepada dinas terkait untuk bantuan tambahan beras dan supply air.
Hamdani berharap kepada pemerintah untuk terus melakukan supply air. Yang setidaknya dilakukan secara bergilir di setiap dusun.
“Kalau tidak cepet diatasi ini kasian masyarakat. Sumur saja sudah tidak ada harapan. Bahkan untuk minum kita beli air galon,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga membutuhkan bantuan tandon untuk penampungan air. Untuk menampung air kebutuhan 7 dusun dengan 1.600 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan.
Apalagi Desa Giri Sasak ini berada pada dataran tinggi pada wilayah tadah hujan.
Sehingga membutuhkan solusi jangka panjang, yang tidak dilakukan hanya pada musim kemarau saja. Seperti pembuatan sumur bor untuk tiap dusun ini.
Dirinya mengaku sudah dijanjikan sumur bor sejak lima tahun lalu.
“Untuk pertanian kita tidak pikirkan itu dulu. Untuk hidup dulu,” tukasnya.
Dari wilayah yang terdampak, ada satu dusun yang memiliki sumur bor. Yakni di Dusun Tanah Poteq. Dengan adanya sumur bor tersebut, kebutuhan air warga akan tercukupi.
Warga Dusun Tanah Poteq tidak lagi membutuhkan distribusi air. Dia mengatakan, jika aliran air tetap lancar, kebutuhan air bersih dipastikan akan terpenuhi.
Pengeboran itu merupakan bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Polda NTB pada 2023 lalu.
“Kalau dusun itu, sudah sedikit bisa tertangani airnya,” tambahnya.
Begitu pula yang terjadi di Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung. Kepala Desa Banyu Urip, M Selamat Riadi mengatakan ada 4 dusun dengan 2500 KK yang terdampak desa tersebut.
“Setiap hari disupply air,” kata Riadi.
Begitupula dengan kondisi pertanian yang terdampak kekeringan sekitar 300 an Ha lahan sawah yang sudah tidak dapat tertolong.
Sehingga ada beberapa yanv mrmilih untuk menanam tumbuhan lain, dan sisanya mangkrak.
“Kita utamakan untuk sehari-hari dulu. Karena pertanian sudah sia sia,” ucapnya.
Dirinya mengaku, sudah mengusulkan untuk pembuatan sumur bor yang ada di empat dusun terdampak.
Usulan dilakukan sejak tahun lalu, bahkan tahun ini akan dilakukan kembali. Karena hingga saat ini, belum ada sumur bor di wilayah tersebut. (chi)
Editor : Marthadi