Sumber makanan yang dikonsumsi para santriwati Ponpes Al-Ishlahuddiny, Kediri yang menyebabkan keracunan masih misteri. Apakah makanan dari dalam pondok atau dari luar. Pengasuh ponpes mendukung penuh langkah Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Barat (Lobar) yang melakukan pemeriksaan.
-------------------------
Dinkes Lobar bergerak cepat menangani kasus keracunan massal yang menimpa puluhan santriwati Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri.
Senin (9/12), Dinkes menurunkan tim surveilans dan petugas kesehatan lingkungan (kesling) melakukan penyelidikan.
Tim turun meninjau kompleks asrama tempat tinggal dan madrasah tempat para santriwati sekolah.
"Di kompleks asrama tim wawancara pengurus asrama dan tukang masak," kata Radi, salah seorang petugas.
Petugas juga memantau kebersihan lingkungan asrama. Mulai dari tempat area memasak, kamar santriwati hingga tempat pembuangan sampah.
Apalagi saat musim hujan seperti saat ini. Lalat mudah sekali hinggap pada makanan yang dibiarkan terbuka.
"Faktor lingkungan ini benar-benar harus dijaga," paparnya.
Isnaini, ketua asrama putri Ponpes Al-Ishlahuddiny yang dimintai keterangan mengatakan tidak tahu menahu sumber makanan yang menyebabkan keracunan massal Sabtu malam (7/12).
Dia menceritakan, insiden itu berawal pada Jumat pagi (6/12).
Saat itu petugas masak menyiapkan menu sarapan dengan lauk sambal tongkol dan tempe.
Makanan tersebut dimasak dari luar asrama. Persisnya di Dusun Pelowok, Kediri.
Makanan diantar ke asrama dengan dibungkus kertas minyak.
Tapi tidak semua santriwati mendapat jatah sarapan itu.
"Dari total 345 santriwati, mungkin ada sekitar 250 bungkus yang dibagikan pagi itu (Jumat pagi,Red)," tutur Isnaini.
Adapun menu makan siang di masak di area asrama. Lauknya berupa ayam potong, telur, dan sayur bayam.
Baca Juga: Kanwil Kemenkumham NTB Pastikan Tahapan Tes SKB CPNS Berlangsung Objektif dan Transparan
Menurutnya, banyak santriwati yang tidak mengambil jatah sarapan dan makan siang.
Sebab banyak yang dijenguk orang tuanya. Diketahui, Jumat adalah hari libur para santri.
Para orang tua biasanya datang menjenguk ke asrama sambil membawa makanan untuk buah hatinya.
Laporan terkait santriwati yang merasakan mual dan muntah mulai muncul Sabtu pagi (7/12).
Jumlahnya makin bertambah banyak pada Sabtu malam.
Pengurus asrama pun kelabakan.
Mereka langsung berkoordinasi dengan pengasuh ponpes dan melarikan para santriwati ke sejumlah tempat.
"Kami pakai mobil pengasuh," tutur Isnaini.
Di Puskemas Kediri ada 15 pasien yang dirawat.
Selanjutnya Puskesmas Labuapi sebanyak 11 santriwati.
Kemudian Puskesmas Gerung 13 santriwati, RSUD Awet Muda Narmada 14 orang dan RSUD Patut Patuh Patju Lobar sebanyak 25 santriwati.
Sehingga total ada 78 santriwati yang mendapat perawatan medis Sabtu malam.
"Tapi tidak bisa dipastikan sumbernya dari menu itu. Karena banyak santri jajan di luar," ungkapnya.
Tim Dinkes Lobar juga turun ke madrasah kemarin (9/12). Sedikitnya ada 10 santriwati yang dimintai keterangan.
Baik santriwati jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) maupun Madrasah Aliyah (MA).
Mereka ditanya seputar makanan apa saja yang dimakan sebelum merasakan gejala mual, muntah dan bahkan mencret.
Salah satunya santriwati bernama Alenatu Nisa. Santriwati kelas 2 MTs mengaku mulai merasakan mual pada Sabtu pagi (7/12).
Kondisinya makin memburuk pada Sabtu malam.
Dia pun ikut dibawa ke Puskesmas Kediri untuk dilakukan perawatan.
Anehnya dia mengaku tidak pernah mengkonsumsi menu makanan dari pondok. Baik untuk sarapan dan makan siang Jumat lalu.
Hanya saja dia membeli beberapa makanan saat perjalanan pulang dari madrasah menuju kompleks asrama putri.
"Setahu saya tidak pernah makan dari masakan asrama," tuturnya.
Baca Juga: Cuaca Buruk, Pohon Tumbang di Sejumlah Tempat di Lombok Utara
Kepala Sekolah MTs Putri H Farhan Muchlis mendukung penuh langkah Dinkes Lobar yang menyelidiki kasus itu.
"Apakah ini karena makanan atau virus. Kami nggak tahu. Makanya kami buka akses seluas-luasnya untuk penyelidikan ini," jelas Farhan.
Termasuk dari mana sumber makanan berbahaya yang dikonsumsi para santriwati. Apakah dari dalam pondok atau dari luar. Semua masih simpang siur.
"Kalau memang dari dalam pondok kami akan perbaiki dan evaluasi. Tapi kalau dari luar kami akan antisipasi agar anak-anak tidak jajan sembarangan," tegasnya.
Para santriwati sering membeli aneka jajanan di luar. Seperti cilok, seblak, rujak, es serta aneka jajanan pinggir jalan lainnya.
Maklum, para santri putri Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri harus melewati jalan raya Kediri menuju kompleks asrama. Jarak dari sekolah ke asrama sekitar 500 meter.
"Nah di pinggir jalan kan banyak orang jualan aneka jajanan. Kami tidak bisa mengontrol santriwati beli apa saja," tutur Farhan. (Umar Wirahadi/r12)
Editor : Kimda Farida