LombokPost-Biaya rekonstruksi Jembatan Bakong membutuhkan anggaran besar. Nilainya mencapai Rp 50 miliar. Itu diketahui setelah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) NTB serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Lobar turun mengecek kondisi jembatan, Kamis (13/2).
Pelaksana Tugas (Plt) Kadis PUPR NTB Lies Nurkomalasari turun ke lokasi didampingi Kadis PUTR Lobar Lalu Winengan. Mereka mengecek kondisi jembatan. Mulai dari permukaan aspal hingga rangka baja. ”Kami turun untuk melakukan pemerataan pada kondisi jembatan ini,” kata Plt Kadis PUPR NTB Lies Nurkomalasari.
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa terjadi kerusakan cukup fatal pada konstruksi jembatan. Kemiringan jembatan di bentang tengah terjadi karena tiang beton sudah turun dari titik koordinat semula.
Selain itu, tiang bawah jembatan juga sudah bergeser. Sehingga menimbulkan keretakan pada sambungan aspal. Pantauan Lombok Post menunjukkan keretakan aspal di sisi Desa Kebon Ayu sekitar 5-6 sentimeter. Sedangkan di sisi Desa Lembar aspal terlihat mengelupas. PUPR juga menemukan ada baut pada tiang yang sudah lepas.
”Faktor-faktor inilah yang menyebabkan terjadi kemiringan pada bentang jembatan. Miring ke sisi selatan,” jelas Lies.
Disampaikan, pihaknya akan langsung menyampaikan kondisi jembatan ke Penjabat (Pj) Gubenur NTB. Setelah itu akan dilaporkan ke Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta.
Kadis PUTR Lobar Lalu Winengan mengatakan kerusakan konstruksi jembatan membuat infrastruktur itu harus dibangun total. ”Tidak bisa direhab. Jembatan lama ini dibongkar dan dibangun jembatan baru,” kata Winengan.
Anggaran yang dibutuhkan cukup besar. Sekitar Rp 50 miliar. Oleh karena itu pihaknya akan mendampingi PUPR NTB untuk melaporkan kondisi itu ke pusat. ”Kami akan datang ke kementerian 20 Februari nanti,” jelasnya.
Selain menyampaikan kondisi jembatan, itu juga terkait dengan kepastian anggaran. Apakah murni menggunakan APBD NTB atau ada penyertaan bantuan dana APBN.
Lebih jauh Winengan menyampaikan direksi PLTU Jeranjang juga harus terlibat dalam upaya perbaikan jembatan. Sebab selama ini, jalur jalan provinsi itu dilalui kendaraan angkutan bahan bakar yang menyuplai solar ke PLTU Jeranjang. Satu angkutan logistik saja memiliki kapasitas 45 ton per kendaraan. ”Kami minta PLTU Jeranjang harus terlibat. Apakah dalam rangka pembicaraan dengan kementerian atau melalui skema pendanaan,” cetusnya.
Seperti diketahui, Jembatan Bakong yang menghubungkan Desa Kebon Ayu, kecamatan Gerung dengan Desa Lembar, Kecamatan Lembar semakin mengkhawatirkan. Kondisi jembatan itu kian miring ke selatan. Tampak beberapa rangka baja di tengah bentang jembatan sudah patah. Aspal sambungan di atas jembatan juga retak-retak.
Polres Lombok Barat pun sudah memasang garis polisi. Petugas menutup total akses itu. Baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua. Meski kedua sisi sudah ditutup, masih ada saja beberapa pengguna sepeda motor yang nekat melintas. Padahal itu sangat membahayakan keselamatan mereka. Karena dikhawatirkan badan jembatan bisa ambruk sewaktu waktu. (mar/r8)
Editor : Pujo Nugroho