LombokPost-Hasil panen padi para petani di wilayah Lombok Barat (Lobar) tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut diungkapkan petani saat acara panen raya serentak di seluruh wilayah Indonesia, Senin (7/4).
”Kalau tahun-tahun sebelumnya, biasanya hasil panen per hektare itu 5 sampai 6 ton. Alhamdulilah tahun ini bisa sampai 7,5 ton per hektarenya,” ungkap Sapoan, Ketua Kelompok Tani Bina Makmur, Kecamatan Kediri, kepada Lombok Post.
Peningkatkan hasil panen ini karena kebutuhan air selama masa tanam tercukupi.
Curah hujan yang stabil selama masa tanam membuat tanaman padi tumbuh subur karena tak ada kendala kekurangan air.
Tak hanya itu, distribusi pupuk yang lancar juga menjadi salah satu alasan penting meningkatnya hasil panen.
”Alhamdulillah tahun ini kami tidak merasakan kesulitan pupuk subsidi. Semua lancar,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat Damayanti Widianingrum menyampaikan jika secara umum panen padi petani memang mengalami kenaikan.
Khusus di Kecamatan Kediri yang menjadi lokasi panen raya bersama Presiden RI Prabowo Soebianto secara virtual, peningkatan juga cukup siginifikan.
”Panen serentak dipusatkan di Kecamatan Kediri tepatnya di Desa Rumak. Ada 63 hektare lahan sawah dengan dua kelompok tani yang panen yakni Kelompok Tani Bina Makmur dan Sumber Makmur dengan anggota 95 orang,” kata Damayanti.
Total ada 30 hektare yang sudah dipanen dan sisanya dilanjutkan hari ini. Pihak dari BPS juga sudah melakukan pengubinan dan didapati hasil 6,8 sampai 7,9 ton hasil panen padi per hektare.
”Di Kecamatan Kediri ini rata-rata 7,2 ton per hektare. Tahun lalu hanya sekitar 6,8 ton per hektare,” imbuhnya.
Dengan kondisi saat ini, hasil panen di Lobar disebutnya bisa surplus. Mengingat tahun lalu produksi panen hanya 20 sampai 25 ribu ton saat panen raya. Tahun ini diperkirakan meningkat di atas angka tersebut.
”Hasil panen ini juga sudah langsung diserap Bulog karena dari sisi kualitas sudah sangat bagus. Kadar hampanya hanya 2,3 persen dari yang biasanya 10 persen. Kadar hampa juga bagus sehingga langsung dibayar Rp 6.500 per kilogram atau Rp 650 ribu per kuintal,” tandasnya. (ton/r8)
Editor : Prihadi Zoldic