LombokPost – Peristiwa memilukan di Dusun Meang, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar) kembali terulang.
Seorang pasien yang baru pulang dari perawatan di RSUP NTB ditandu secara bergotong rotong oleh warga, Senin sore (12/5).
Pasien bernama Apit itu ditandu dari Dusun Ombol menuju Dusun Meang.
Jarak tempuh kurang lebih 5 kilometer.
Warga terpaksa menandu karena kondisi jalan setempat yang sangat memperihatinkan.
Jalannya rusak berat sehingga tidak bisa dilalui kendaraan pengangkut penumpang.
"Kalau naik kendaraan malah tambah sakit. Makanya kita tandu secara bergantian," kata Fauzi, salah seorang warga.
Dari video yang dibagikan ke redaksi Lombok Post, warga menandu pasien secara bergantian dengan melibatkan delapan orang.
Pria 45 tahun itu baru pulang dari perawatan di RSUP NTB pukul 16.00 Wita. Dia didiagnosa menderita kanker hati.
Karena belum sehat, tubuh pasien masih lemah.
Dia tidak kuat berjalan. Sehingga warga gotong rotong menandu sampai ke rumahnya.
"Karena kalau naik kendaraan jadi tambah sakit. Makanya lebih baik ditandu atau digendong," tutur Fauzi.
Akses menuju Dusun Meang, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Lobar, memang sudah lama dikeluhkan.
Akses menuju wilayah itu yang sangat mengenaskan dengan medan yang terjal.
Karena itulah tidak ada angkutan yang sanggup menembus medan berat itu.
Apalagi sambil membawa penumpang.
"Kami sudah lama meminta agar pemerintah memperbaiki jalan ini. Kasihan warga Dusun Meang ini," ujar Ketua RT Dusun Meang Maskur.
Aksi warga yang bergotong rotong menandu orang sakit bukan kali ini terjadi.
Pada pertengahan Januari 2025, seorang ibu muda bernama Siatri juga terpaksa ditandu usai melahirkan.
Dia ditandu dari Dusun Pangsing ke Dusun Meang. Kejadian ini sempat membuat Dusun Meang viral di media soaial.
Tahun 2023 pernah ada kejadian yang lebih miris lagi.
Seorang perempuan bernama Harni bayinya tidak bisa diselamatkan.
Sang ibu keburu melahirkan di tengah jalan dan bayinya meninggal dunia.
"Kejadian seperti ini harusnya mengetuk hati nurani para pembuat kebijakan. Kami merasa dianaktirikan. Kami terlalu kecewa sama pemerintah," tegas Maskur. (mar)
Editor : Kimda Farida