Lombok Post - Di tengah hijaunya perbukitan Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, tersaji pemandangan tak biasa. Bendungan Meninting, Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mulai digarap sejak 2019 dan belum rampung hingga pertengahan 2025, justru menjelma menjadi destinasi wisata dadakan bagi warga sekitar.
Alih-alih menjadi simbol belum tuntasnya pembangunan, bendungan ini kini ramai dikunjungi
masyarakat, menyuguhkan hiburan di balik molornya penyelesaian proyek.
Pembangunan Bendungan Meninting bertujuan mendukung ketahanan pangan dan air di NTB, terutama untuk irigasi lahan seluas 1.300 hektare, penyediaan air baku 150 liter/detik, serta potensi pembangkit listrik mikrohidro.
Anggaran proyek ini mencapai sekitar Rp 1,4 triliun. Target awal penyelesaian pada 2023 diundur ke akhir 2024. Namun hingga kini, proyek masih berjalan. Meski belum rampung, suasana di sekitar Bendungan Meninting jauh dari kesan proyek konstruksi.
Pengawasan yang dulu ketat, kini mengendur. Pagar pembatas mulai terbuka, mengundang rasa penasaran warga. Alhasil, area yang masih setengah jadi ini berubah menjadi lokasi rekreasi favorit, terutama di akhir pekan.
Saat Lombok Post mengunjungi lokasi, suasana yang tersaji tak ubahnya kawasan wisata. Ratusan
warga, tua muda, datang bersama keluarga. Ada yang sekadar ingin tahu, mencari hiburan murah, atau menikmati sore dengan suasana berbeda.
“Saya dengar dari tetangga kalau bendungan ini sudah bisa dikunjungi, jadi penasaran,” ujar Halimah, ibu rumah tangga yang datang bersama tiga anaknya. “Lumayan buat refreshing. Anak-anak juga senang bisa lihat air sebanyak ini.”
Beberapa keluarga terlihat menggelar tikar di tepi danau buatan, menikmati bekal sambil menatap hamparan air. Anak-anak tertawa riang, sebagian nekat berenang meski area itu masih masuk zona proyek. Alunan musik dari pengeras suara portabel ikut menyemarakkan suasana.
Tak hanya warga, para pedagang kaki lima juga memanfaatkan momen. Mereka menjajakan aneka jajanan dan mainan anak, menambah semarak kawasan.
Namun, di balik antusiasme itu, bahaya mengintai. Sabtu (14/6) sore, seorang pemuda asal Desa Duman, Kecamatan Lingsar, tenggelam saat berenang di area pembuangan air bendungan. Ia ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 17.30 Wita.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kawasan proyek belum sepenuhnya aman. Meski menggoda sebagai tempat rekreasi, masyarakat tetap perlu memahami dan mematuhi batasan keamanan.
Bagian seperti saluran pembuangan air memiliki risiko tersembunyi. Aktivitas seperti berenang seharusnya dihindari demi keselamatan.
Kepala Desa Bukit Tinggi Ahmad Muttaqin mengakui area bendungan belum sepenuhnya terbuka untuk umum. “Sebenarnya belum boleh, tapi sudah terlalu viral dengan diposting di sosial media, belum lagi para Youtuber dan pembuat konten lainnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, akses terbuka karena lokasi itu merupakan jalan umum bagi warga Dusun Murpadang.
“Sehingga tidak ditutup karena akses warga sebagai pengganti jalan yang terkena dampak bendungan,"
jelasnya.
Menurut dia, pengunjung memanfaatkan celah tersebut. “Kecuali area ke dalam yang dijaga ketat, seperti sekuriti di sekitar landscape, batangan bendungan, dan gardu pandang," katanya.
Pengamanan di luar zona inti proyek, lanjutnya, dibantu oleh pemuda setempat. “Betul untuk
mengamankan motor kalau dikasih, diambil untuk parkir. Kalau tidak dikasih, tidak minta mereka,” tuturnya.
Terkait progres pembangunan, Ahmad Muttaqin menyebut pengerjaan masih berjalan. “Belum tahu pasti kapan diresmikan, tunggu sampai kelar plugging,” ujarnya.
Meski proyek belum rampung, Ahmad Muttaqin melihat potensi besar dari keberadaan bendungan. "Insya Allah nanti kita berkolaborasi ke depan untuk kita tata tempat-tempat lapak biar pengunjung nyaman, aman, nikmati suasana bendungan dengan suguhan hijaunya perbukitan dan view kota," ungkapnya.
Ia pun mengapresiasi akses jalan menuju bendungan yang kini sudah baik. “Bukan mulai bagus, tapi sudah mulus,” tegasnya. (*/r7)
Editor : Jelo Sangaji