LombokPost - Kelangkaan gas elpiji atau gas melon subsidi di sejumlah wilayah Lombok Barat (Lobar) bukan isapan jempol. Hasil sidak pihak dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lobar ke Desa Sandik, Batulayar, warga maupun pengecer mengaku beberapa hari terakhir gas melon mengalami kelangkaan. Bahkan harganya mencapai Rp 25 ribu per tabung.
”Beberapa hari ini memang susah dicari gas elpiji ini. Harganya sampai Rp 25 ribu,” ungkap Jumakyah salah satu warga pelaku UMKM di Desa Sandik kepada Lombok Post, kemarin (17/6).
Hal ini juga dibenarkan para pengecer gas elpiji subsidi. Husna, salah satu pengecer terpaksa menjual dengan harga lebih tinggi dari biasanya. Karena dari pangkalan tempatnya biasa mengambil tabung gas ini, harganya juga mengalami kenaikan.
”Saya jualnya 25 ribu karena saya ngambilnya harganya 22 ribu sampai 23 ribu. Normalnya saya jual 20 ribu karena ngambilnya dikasih harga 17 ribu sampai 18 ribu,” bebernya.
Dia mengaku tidak tahu alasan kenapa gas elpiji subsidi ini mengalami kenaikan di pangkalan. Namun informasi dari salah satu pangkalan tempatnya mengambil elpji subsidi tersebut, memang terjadi kenaikan harga. Salah satu pemilik pangkalan di Desa Sandik, Ginting mengaku jika selama beberapa hari terakhir menaikkan harga.
”Biasanya saya ngambil di salah satu agen Lombok Barat. Tetapi saya kemarin sempat nempil karena langka, makanya saya jual 22 ribu. Sekarang sudah normal lagi saya ambil di agen saya lagi dan jual 20 ribu ke pengecer,” jelas Ginting.
Sementara untuk stok gas elpiji di tingkat distributor hingga agen, ketersediaan stok elpiji dikatakan normal seperti sebelumnya. Tidak pernah ada kelangkaan. Sehingga mereka heran kenapa di tingkat pengecer dan masyarakat justru merasakan kelangkaan hingga kenaikan harga signifikan mencapai Rp 25 ribu.
Wenny, salah satu pemilik pangkalan lain di Desa Sandik mengaku kiriman gas elpiji ke tempatnya selama ini lancar tidak pernah ada persoalan. ”Kalau kami di pangkalan paling tinggi jual harga 18 ribu maksimal 20 ribu. Stok yang kami dapatkan juga memang tetap tidak ada perubahan,” jelas Wenny.
Dalam sebulan, pangkalan gas elpiji yang dia dapatkan tiga kali dari agen. Total tabung gas elpiji yang diterima sekali pengiriman sebanyak 560 tabung gas. Kabid Perdagangan Disperindag Lobar Marlina menjelaskan pihaknya kembali turun melakukan sidak ke agen dan pangkalan untuk mengecek stok elpiji. Mengingat rantai pengiriman elpiji berasal dari distributor, agen, pangkalan dan terakhir ke pengecer.
”Hasil sidak kami ke distributor dan agen stok elpiji 3 kilogram ini aman sampai akhir tahun. Di pangkalan juga aman. Dari pangkalan ke pengecer ini yang kami telusuri di mana yang tidak beresnya,” kata dia.
Karena terjadi kejanggalan jika pengecer menjual dengan harga Rp 25 ribu ke masyarakat. Padahal, stok dari agen normal. Sementara harga yang diberikan pangkalan ke agen maksimal Rp 20 ribu. Meski ada beberapa pangkalan yang ditemukan menjual dengan harga Rp 22 sampai Rp 23 ribu.
”Kalau dijual 25 ribu itu terlalu tinggi. Maksimal 22 ribu itu wajar. Kami akan menindaklanjuti hasil ini dan disampaikan ke pimpinan. Kami juga akan bersurat ke distributor, agen dan pangkalan,” terang Marlina.
Jika ditemukan ada indikasi kecurangan atau permainan, tidak menutup kemungkinan izin mereka dicabut. Bahkan, kecurangan yang disengaja dengan melakukan penimbunan atau manipulasi lainnya bisa berujung pidana.
”Pada intinya tidak ada hal yang luar biasa terjadi yang menyebabkan kelangkaan. Kami juga dari pemkab akan berupaya agar meminta tambahan kuota dari pertamina terkait stok elpiji bagi masyarakat,” tandasnya. **
Editor : Pujo Nugroho