LombokPost - Namanya kini mulai dikenal di pentas dunia presean yang ada di wilayah Lombok. Serawah Ombak Bakong perlahan namun pasti menjadi salah satu pepadu yang kini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Gumi Patut Patuh Patju, Lombok Barat.
Jayadi dikenal sebagai pria yang murah senyum di kalangan temannya.
Tapi jangan salah, di balik senyumnya yang ramah, dia adalah petarung yang ganas kalau sudah berada di atas arena peresean. Dia bak gladiator era kekaisaran Romawi jika sudah memegang penyalin dan ende alat bagi para pepadu presean yang bertarung.
Pria kelahiran 1984 ini sudah aktif bertarung sejak belasan tahun silam.
”Dari kecil suka peresean, tapi aktif mulai diajak ikut main ke sana kemari itu mulai tahun 2014,” tutur pria yang mengaku bolak-balik menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) tersebut.
Dia mengaku senang berlaga di panggung presean karena sejak kecil hobinya memang senang berkelahi. Sesama teman main, Jayadi kerap mengalami perselisihan berujung perkelahian.
Menyadari apa yang dilakukannya salah, dia kemudian berupaya mengalihkan kebiasaannya yang suka berkelahi itu ke arah yang positif.
Jayadi akhirnya sejak kecil beberapa kali ikut peresean antar kampung yang biasa diselenggarakan ketika ada acara-acara tertentu.
Perlahan, kecintaan Jayadi kepada presean semakin mendalam. ”Saya senang dengan presean karena banyak hal yang bisa kita pelajari. Ada istilahnya wiraga, wirasa, wirama,” terangnya.
Wiraga dipaparkan Jayadi memiliki makna seorang pepadu harus memiliki fisik, stamina dan tubuh yang kuat. Tidak boleh lemah. Hal ini menurutnya selaras dengan apa yang diajarkan agama jika seorang pria harus melatih dirinya menjadi lebih kuat.
”Ini juga berpengaruh terhadap pekerjaan kita. Apalagi saya sering pergi bekerja di ladang sawit Malaysia, otomatis fisik harus kuat. Tidak boleh lemah,” tuturnya.
Kemudian untuk wirasa, seorang pepadu dijelaskan Jayadi harus memiliki perasaan atau mental yang pemberani dan juga kuat menahan rasa sakit. Tidak mudah kecut menghadapi siapapun lawannya.
”Wirasa ini kalau dalam kehidupan sehari-hari mengajarkan kita menjadi orang yang tangguh. Tidak lembek dan lemah ketika menghadapi masalah apapun, tidak mudah gentar,” paparnya.
Sementara untuk wirama, Jayadi memaparkan jika seorang pepadu harus bisa mengikuti irama musik gamelan yang menjadi pengiring saat dua pepadu berlaga.
Mereka harus bisa menari menghibur penonton meski merasakan sakit saat bertarung.
”Wirama ini ibaratnya kalau ada masalah dalam hidup, jangan terlalu dipikirkan rasa sakitnya. Dinikmati saja, menari saja, anggap itu bagian dari seni kehidupan,” urainya.
Dengan nilai-nilai yang terkandung dalam peresean, lambat laun membuat pria yang berasal dari Dusun Bakong, Desa Kebon Ayu ini akhirnya makin teguh menjadi seorang pepadu.
Beberapa pepadu tangguh yang ada di Pulau Lombok sudah tak terhitung dihadapinya. Namun Jayadi tak pernah menyerah dan takut menghadapi mereka.
Justru, setiap pepadu lain yang dihadapinya usai berlaga menjadi sahabat dan keluarga. Hal ini pula yang membuatnya semakin senang terjun ke dunia peresean.
”Ini sebagai ajang silaturahmi bisa kenal dengan pepadu dari beberapa daerah seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, hingga Kota Mataram,” ucap pria yang bernaung di bawah Paguyuban Putra Kawangan tersebut. (*)
Editor : Akbar Sirinawa