Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wartelsuspas Lapas Lobar Jadi Jembatan Kasih dari Balik Jeruji

Hamdani Wathoni • Selasa, 8 Juli 2025 | 08:42 WIB
LEPAS RINDU: Para warga binaan saat menelepon keluarganya melalui Wartelsuspas yang disiapkan pihak Lapas Kelas IIA Lobar.
LEPAS RINDU: Para warga binaan saat menelepon keluarganya melalui Wartelsuspas yang disiapkan pihak Lapas Kelas IIA Lobar.

LombokPost-Lapas Kelas IIA Lombok Barat menghadirkan obat bagi kerinduan yang tak tertahankan para warga binaan terhadap keluarganya.

Lewat Warung Telekomunikasi Khusus Lapas (Wartelsuspas), suara dari orang terkasih bisa menembus dinding tinggi dan jeruji penjara. 

"Halo, Nak… bagaimana sekolahmu hari ini?” suara salah satu warga binaan penuh emosi menelpon anaknya dari balik bilik mungil bercat oranye.

Sambil memejamkan mata, warga binaan tak kuasa menahan haru ketika putranya di seberang telepon menjawab riang.

Bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lombok Barat momen komunikasi lewat sambungan telepon inilah yang membuatnya tetap kuat menapaki hari-hari panjang menjalani hukuman.

Bilik telepon itu bukan warung telepon biasa, dikenal sebagai Warung Telekomunikasi Khusus Lapas (Wartelsuspas).

Ini merupakan fasilitas resmi lapas yang menjadi penghubung harapan antara warga binaan dan keluarga.

Setiap Senin, antrean warga binaan mengular rapi menunggu giliran. Ada yang menggenggam secarik kertas berisi nomor telepon istri atau ibu di rumah.

”Kami pastikan hak berkomunikasi tetap terpenuhi,” tegas Kalapas Lombok Barat M Fadli.

Wartelsuspas dilengkapi sistem perekaman dan pengawasan terintegrasi demi mencegah penyalahgunaan, tetapi rasa kemanusiaan tetap nomor satu.

Wartelsuspas di Lapas Lobar dibuka setiap hari kerja. Setiap nomor keluarga telah didaftarkan lebih dulu.

Petugas duduk di panel kontrol, memantau percakapan via perangkat lunak pengawasan suara. Meski prosedur ketat, kehangatan tetap terasa di bilik-bilik sempit itu.

”Dengar suara anak dan istri jadi vitamin jiwa,” ujar salah satu warga binaan dengan mata berkaca-kaca seusai menutup telepon.

”Saya sadar pernah salah. Tapi wartel ini mengingatkan, di luar sana masih ada yang menunggu saya pulang,” imbuhnya.

Komunikasi keluarga terbukti menekan stres, mempercepat adaptasi sosial, sekaligus menurunkan risiko dalam mengulangi kejahatan serupa.

Rasa rindu membuat narapidana termotivasi menyusun rencana hidup positif setelah bebas. Di mata banyak warga binaan, Wartelsuspas kini menjadi ruang paling didamba.

Dengan keterbatasan aktivitas wargaa binaan di dalam lapas, mendengar suara orang tua, pasangan, atau anak-anak menjadi penawar rindu yang tak ternilai.

Setiap percakapan di wartel menjadi pengingat akan rumah, akan kehidupan yang ingin diperbaiki, dan masa depan yang ingin mereka raih kembali setelah bebas nanti.

Bagi keluarga di luar, mendengar kabar dari orang yang mereka rindukan juga menjadi penghibur tersendiri.

Banyak yang menanti jadwal telepon dengan harap-harap cemas, berharap sang ayah, anak, atau suami tetap sehat dan kuat di dalam lapas.

Dengan pendekatan yang lebih humanis, Lapas Lombok Barat tak hanya menjalankan tugas pemasyarakatan, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan harapan.

Wartel bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan kasih yang mempertemukan dua dunia yang terpisah oleh tembok, namun tetap disatukan oleh cinta keluarga. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Lobar #warga binaan #Lapas Kelas IIA Lombok Barat #Lapas #Wartel