Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Aksi TRC Dinas PUTR dan LH Lobar Atasi Sampah Berjibaku dengan Sampah dan Kotoran Hewan

Hamdani Wathoni • Senin, 22 September 2025 | 14:38 WIB
BERSIHKAN SALURAN: Sejumlah petugas TRC Dinas PUTR dan LH Lombok Barat saat turun membersihkan sampah yang memadati saluran di Desa Kebon Ayu, Sabtu (21/9).
BERSIHKAN SALURAN: Sejumlah petugas TRC Dinas PUTR dan LH Lombok Barat saat turun membersihkan sampah yang memadati saluran di Desa Kebon Ayu, Sabtu (21/9).

LombokPost - Sampah masih menjadi momok di Lombok Barat. Terutama sampah yang memenuhi saluran irigasi dan sungai. Beruntung ada tim reaksi cepat (TRC) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat.

Bau menyengat menusuk hidung saat memasuki salah satu kawasan pemukiman Dusun Bakong dan Dusun Proa, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Bukan sekadar bau sampah, tapi juga kotoran sapi yang terbawa aliran air irigasi. Selama tiga hari terakhir, saluran yang tersumbat meluap ke pemukiman warga.

"Airnya masuk sampai ke sumur. Kami terpaksa menutup rapat-rapat rumah karena bau busuknya tidak tertahankan," keluh Salman, salah seorang warga, saat ditemui Sabtu (21/9).

Genangan bercampur limbah kandang kolektif ini membuat aktivitas warga terganggu. Sebagian warga bahkan harus menutup hidung tak kuar menahan bau dari air kotor ketika keluar dari pekarangan rumah. Salman mengaku persoalan ini bukan hal baru.

"Sudah bertahun-tahun kami hadapi. Setiap musim hujan, air saluran meluap karena penuh sampah dan kotoran. Tidak ada solusi yang benar-benar tuntas," ucapnya.

Menerima laporan warga, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat langsung bergerak.

Sejumlah petugas membawa cangkul dan sekop, tanpa ragu turun ke saluran irigasi yang sudah dipenuhi lumpur, plastik, dan sisa pakan ternak. Bau kotoran sapi tidak membuat mereka mundur. Satu per satu tim membersihkan endapan yang menutup jalur air.

Namun, aksi ini menyisakan ironi. Sejumlah warga hanya menonton dari pinggir jalan. Tak ada yang ikut membantu. Pemerintah desa berdalih sebagian besar warga tengah mengikuti acara Maulid. Semangat gotong royong itu mulai pudar.

"Petugas kami temukan kotoran sapi menumpuk di saluran. Itu berasal dari kandang kolektif di hulu. Sisa pakan dan kotorannya langsung dibuang ke irigasi," ungkap Sekretaris Dinas PUTR Lombok Barat Lalu Ratnawi.

Selain limbah ternak, tambah Ratnawi, banyak pula bangunan berdiri di atas saluran. Ada toko, teras rumah, bahkan ruang tamu yang menjorok menutupi jalur irigasi.

"Bangunan ini mempersempit saluran dan membuat sampah mudah tersumbat," jelasnya. Pengamat pengairan Ida Sulyaningsih yang turut mendampingi tim pembersihan, menegaskan bahwa masalah utama sudah jelas yakni limbah kandang kolektif dan bangunan liar di atas saluran. Selain juga banyak warga membuang sampah ke saluran.

"Ini tidak boleh dibiarkan. Kalau tidak ditertibkan, banjir akan terus berulang," tegasnya. Ida menyarankan agar setiap dusun memasang jaring penghalang sampah di saluran.

Baca Juga: Jaga Kepercayaan Pelanggan, PT Dutabahari Menara Line Cabang Lembar (Jambo XI) Prioritaskan Pengembalian Barang Tertinggal

Dengan begitu, bisa diketahui dari mana sumber sampah berasal. "Kalau sudah jelas asalnya, penanganannya bisa lebih tepat. Jangan saling lempar tanggung jawab," ujarnya.

Meski tim TRC sudah bekerja keras, solusi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran warga untuk berhenti membuang sampah dan limbah ternak ke saluran sangat dibutuhkan. Begitu pula penertiban bangunan liar yang menutup jalur irigasi.

Tanpa itu semua, ancaman genangan dan bau busuk akan terus menghantui warga Kebon Ayu. “Kami berharap ada penanganan lebih serius. Jangan hanya pembersihan sementara, tapi juga ada solusi jangka panjang,” pinta Salman.

Sementara petugas masih berkubang dengan cangkul dan lumpur, pertanyaan besar pun tertinggal di Kebon Ayu, kapan warga akan berhenti jadi penonton, dan mulai terlibat menjaga lingkungan mereka sendiri.

Editor : Siti Aeny Maryam
#tim reaksi cepat #sampah #Lombok Barat #saluran #Dinas Lingkungan Hidup