LombokPost - Tak hanya dari fasilitas, dapur makanan bergizi gratis (MBG) milik Yayasan Agniya di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Lombok Barat yang dibangun dengan anggaran Rp 4,7 miliar juga memastikan bahan makanan yang disiapkan masih segar dengan kulitas nomor satu.
Program MBG kini menjadi sorotan. Menyusul banyaknya dugaan keracunan makanan yang bersumber dari MBG. Menyadari hal tersebut, Yayasan Agniya menghadirkan dapur yang disebut-sebut paling modern di Lombok Barat yang siap menghasilkan menu MBG dengan kualitas terjamin.
"Kami pilih bahan baku berkualitas nomor satu. Kami ingin memastikan tidak hanya fasilitas terbaik sesuai standar yang kami siapkan, bahan bakunya juga harus baik," jelas Ketua Yayasan Agniya Hariyanto.
Ahli gizi sudah disiapkan sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN) di dapur ini. Tak hanya itu, bank menu sudah tersedia. Sebelum didistribusikan, makanan juga akan diuji dengan standar keamanan yang ditentukan. "Kalau bahan makanan tidak sesuai standar, akan kami tolak," tegasnya.
Gedung dapur MBG milik Yayasan Agniya ini berukuran 20 x 22 meter. Dilengkapi dengan mesin-mesin pendingin, kompor besar, rice timer, wastafel modern, hingga perlengkapan masak standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Lebih istimewa lagi, setiap sudutnya terpantau kamera CCTV, total 12 unit, demi menjamin kebersihan dan keamanan produksi makanan. Setelah resmi beroperasi di Montong Are, Hariyanto berencana melebarkan sayap membuka dapur MBG dengan kualitas terbaik di daerah lain. Khususnya daerah terpencil.
"Kami siap memberikan MBG di daerah terpencil. Baik di wilayah gili atau perkampungan terpencil," ucapnya.
Rencananya, Yayasan Agniya akan membuat 10 dapur di Pulau Lombok. Selain di Lombok Barat, bisa juga di Lombok Tengah maupun Lombok Timur. Ketua SPPG Lalu Den Nune Ali, untuk tahap awal dapur ini akan memproduksi 2.979 porsi makanan setiap hari untuk penerima manfaat di wilayah Kediri.
Jumlah itu bahkan masih bisa bertambah jika permintaan meningkat. Selain untuk siswa sekolah, dapur ini juga akan melayani balita stunting, hingga ibu hamil. Sesuai arahan pemerintah pusat.
"Bahan baku mulai dari lingkungan sekitar. Kalau tidak ada di sekitar baru kita mulai mengambil dari suplier," tambah Den Nune. Kehadiran dapur MBG Yayasan Agniya diapresiasi oleh pihak Dinas Kesehatan Lombok Barat.
Ke depan, dapur ini diharapkan bisa jadi rujukan penyedia MBG lainnya. Namun demikian, dia mengingatkan agar pihak dapur tetap memperhatikan kualitas makanan yang disajikan bagi para penerima manfaat.
"Kualitas adalah yang paling penting dibandingkan kuantitas. Itu dimulai dari bahan baku makanan yang akan digunakan untuk MBG," Kabid Kesmas Wine Frida Dwi Purwani.
Editor : Siti Aeny Maryam