LombokPost - Kabar tak sedap datang dari internal RSUD Patut Patuh Patju (Tripat). Sejumlah pegawai dan nakes di rumah sakit milik Pemda Lombok Barat ini mengeluh usai menerima jasa pelayanan (jaspel) bulanan yang nilainya terpangkas drastis.
Pemotongan Jaspel ini disinyalir kuat sebagai dampak untuk menutup utang rumah sakit kepada pihak rekanan yang mencapai Rp 13 miliar.
”Dari yang biasanya saya dapat Rp 2,4 juta sekarang dapatnya cuma Rp 1,7 juta. Rata-rata berkurang Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu,” ungkap salah satu pegawai kepada Lombok Post.
Pemotongan jaspel yang dialami pegawai non-medis maupun tenaga kesehatan (nakes) terbilang signifikan. Membuat mereka kini harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan harian.
Seorang pegawai non-medis RSUD Tripat yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa. Kondisi ini seketika menimbulkan kesulitan, apalagi bagi pegawai yang terikat dengan cicilan bulanan. Pegawai otomatis akan kesulitan mengatur keuangan. Belum lagi yang punya cicilan tiap bulan.
Pemotongan jaspel juga menimpa para nakes RSUD Tripat. Jika biasanya mereka menerima Jaspel di atas Rp 4 juta per bulan, kini yang masuk rekening hanya sekitar Rp 3 juta. Ini berarti Jaspel nakes berkurang antara Rp 1 juta hingga Rp 1,9 juta.
Di tengah kondisi keuangan yang seret, para pegawai dan nakes ini sebenarnya menyimpan banyak pertanyaan atas kebijakan pemotongan tersebut. Namun, mereka memilih bungkam dan hanya mengeluh di kalangan sendiri.
Kondisi ini diperparah dengan adanya isu santer mengenai rencana rasionalisasi pegawai di RSUD Tripat yang mencapai 30 persen dari total pegawai. RSUD Tripat saat diketahui saat ini memang terlilit utang ke pihak ketiga sebesar Rp 13 miliar.
Salah satu faktor pemicunya adalah dugaan kelebihan pegawai yang akhirnya membebani anggaran operasional dan belanja rumah sakit.
Total pegawai di RSUD Tripat saat ini mencapai 854 orang, dan 30 persen di antaranya terancam dirasionalisasi. Hal tersebut juga sempat disinggung bupati. Ancaman pemutusan hubungan kerja ini menjadi langkah yang diambil karena rumah sakit dinilai kelebihan pegawai.
Pihak manajemen RSUD Tripat tidak membantah adanya kebijakan pemotongan Jaspel. Wakil Direktur RSUD Tripat dr. Kaspan membenarkan adanya pemotongan tersebut. ”Nggeh, silakan ke rumah sakit kalau mau konfirmasi,” jawabnya singkat via pesan WhatsApp.
Baca Juga: 30 Persen Pegawai RSUD Tripat Lombok Barat Bakal Dirasionalisasi
Senada dengan Wadir, Direktur RSUD Tripat, dr. Suriyadi juga mengaku siap memberikan keterangan resmi terkait persoalan dugaan pemotongan jaspel yang kini hangat diperbincangkan ini. Dia tak menjawab apakah pemotongan memang dilakukan karena alasan utang rumah sakit atau tidak.
Editor : Siti Aeny Maryam