Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pukau Penonton, Para Penari Dedare Nyesek Ajarkan Filosofi Perempuan Penenun di Pulau Lombok

Hamdani Wathoni • Rabu, 26 November 2025 | 09:43 WIB
MEMUKAU: Sejumlah penari dari Sanggar Dende Anjani saat menampilkan tarian Dedare Nyesek saat launching Calendar of Event Dinas Pariwisata Lobar di Pasar Seni Senggigi, Senin (24/11).
MEMUKAU: Sejumlah penari dari Sanggar Dende Anjani saat menampilkan tarian Dedare Nyesek saat launching Calendar of Event Dinas Pariwisata Lobar di Pasar Seni Senggigi, Senin (24/11).

LombokPost - Lombok memiliki kesenian dan budaya yang sangat kaya dan beragam. Salah satunya yang kini mulai dikenal adalah Tarian Dedare Nyesek atau yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti anak gadis penenun.

Senja di Pantai Senggigi Senin sore (24/11) itu seperti sengaja turun perlahan, memberi panggung bagi sesuatu yang lebih dari sekadar pertunjukan. Di Art Market Senggigi, cahaya jingga yang memantul di permukaan laut menjadi latar sempurna ketika derap kaki para penari Sanggar Dende Anjani mulai terdengar.

Dalam balutan kain warna-warni dan senyum yang tenang, mereka membawakan tarian Dedare Nyesek. Ini merupakan sebuah karya yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga membuka pintu bagi ingatan kolektif masyarakat Lombok tentang akar budaya mereka.

Tamu-tamu yang hadir sontak terhipnotis. Mulai dari Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, Wakil Bupati Nurul Adha, pejabat dinas pariwisata kabupaten dan Provinsi NTB terpukau dengan aksi para penari.

Gerakan tangan para penari yang ritmis, seolah mengulang gerak para perempuan Sasak di bilik-bilik tenun tradisional. Kain-kain yang melambai mengikuti irama musik tradisional menambah magis suasana.

Seperti ada bisikan masa lalu yang datang melalui tubuh-tubuh muda itu yakni lembut, sabar, dan penuh makna. Ari Sulistiawati, pendiri pemimpin Sanggar Dende Anjani, terlihat sumringah melihat penampilan anak-anak didiknya.

Kepada Lombok Post, ia menceritakan bahwa tarian Dedare Nyesek telah mereka garap sejak 2016. "Tarian ini kami ciptakan sebagai upaya menambah khasanah karya tari dari Lombok,” ujarnya. Namun lebih dari itu, Ari ingin mengembalikan memori masyarakat, terutama generasi muda kepada sosok dedare, sebutan untuk gadis-gadis Lombok yang dikenal rajin menenun.

Menurut Ari, nyesek bukan sekadar kegiatan membuat kain. Di dalamnya ada filosofi tentang ketekunan, kesabaran, dan peran penting perempuan dalam kehidupan Sasak. "Ini tentang warisan budaya yang tidak boleh putus. Tentang bagaimana perempuan Lombok membangun identitasnya dengan tangan mereka sendiri," jelasnya.

Ia berharap dengan dihadirkannya tarian ini di ruang publik, semakin banyak anak muda tergugah untuk mengenali dan menjaga tradisi leluhur. Pertunjukan sore itu memang bukan sekadar hiburan. Ia menjelma menjadi ruang belajar, ruang perenungan, bahkan ruang pengingat.

Ketika para penari menutup gerak dengan senyuman, tepuk tangan panjang mengalun di antara deru ombak. Seolah-olah para penonton mengerti bahwa yang mereka saksikan bukan hanya tari, melainkan cerita panjang tentang perempuan Lombok yang dituangkan dalam gerak, irama, dan sehelai kain.

Senja meredup perlahan. Tapi rasa hangat yang ditinggalkan tarian Dedare Nyesek tetap tinggal. Sebuah pesan halus bahwa tradisi, jika dirawat dengan cinta oleh generasi muda, akan terus hidup seindah senja Senggigi yang tak pernah gagal memukau. (*)

Editor : Jelo Sangaji
#sanggar seni #Lombok Barat #tarian #Sasak #Lombok #tradisional