Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perang Topat Jadi Ikon Toleransi dan Penggerak Ekonomi Lombok Barat

Hamdani Wathoni • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:30 WIB
WARISAN BUDAYA: Sejumlah warga tumpah ruah merayakan Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, Kamis (4/12).
WARISAN BUDAYA: Sejumlah warga tumpah ruah merayakan Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, Kamis (4/12).

LombokPost - Perayaan tahunan Puja Wali dan Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, kembali menegaskan posisinya sebagai tradisi luhur yang merekatkan hubungan antarumat beragama.

Upacara budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini tidak hanya dihormati sebagai ritual sakral, tetapi kini semakin dipandang sebagai aset penting pariwisata dan ekonomi di daerah tersebut.

“Ini warisan yang harus kita jaga. Di sini umat Hindu dan Muslim bersatu,” ujar Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini saat menghadiri perayaan, Kamis (4/12).

Keunikan tradisi ini terletak pada keterlibatan dua komunitas besar di Lombok yakni umat Hindu dan Muslim Sasak yang secara turun-temurun melaksanakan rangkaian ritual dalam satu kawasan suci.

Di kompleks Pura Lingsar terdapat Pura Gaduh, tempat ibadah umat Hindu, serta Kemaliq yang menjadi ruang spiritual bagi masyarakat Muslim Sasak. Dua tempat suci dalam satu area inilah yang menjadikan Pura Lingsar simbol kerukunan yang tidak lekang oleh waktu.

Puncak acara yang paling ditunggu adalah Prosesi Perang Topat, sebuah tradisi saling melempar ketupat yang telah didoakan. Meskipun disebut “perang”, suasana prosesi justru dipenuhi tawa, kegembiraan, dan ungkapan syukur. Perang Topat biasanya digelar pada sore hari saat bulan purnama ketujuh menurut penanggalan Sasak.

Bupati LAZ, sapaannya menegaskan bahwa inti dari Perang Topat adalah nilai persatuan yang diwariskan para leluhur. Ia menilai tradisi ini bukan hanya budaya lokal, tetapi juga contoh nyata toleransi antaragama di Indonesia.

Selain menjadi simbol harmoni, ketupat yang digunakan dalam prosesi diyakini membawa berkah, keselamatan, bahkan dapat menyuburkan tanaman bagi para petani anggota Subak. "Kepercayaan ini menunjukkan kuatnya keterkaitan antara spiritualitas, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat," jelasnya.

Perang Topat termasuk dalam rangkaian ritual panjang yang berlangsung hingga sepuluh hari. Di antaranya Roah Gubug, yakni doa dan zikir dipimpin tokoh agama; Negelingan Kaoq, prosesi menggiring kerbau sebagai lambang penghormatan bersama; serta Pujawali, sembahyang besar umat Hindu yang berlangsung di hari yang sama dengan Perang Topat dan diiringi kesenian tradisional seperti Gendang Beleq.

Keistimewaan tradisi ini mendapat perhatian nasional setelah berhasil masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) dari Kemenparekraf. Bupati LAZ menilai pengakuan tersebut sebagai peluang besar untuk mendongkrak ekonomi lokal. "Setiap event di Lombok Barat harus mampu menciptakan perputaran ekonomi rakyat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," tegasnya.

Untuk memaksimalkan manfaatnya, strategi promosi akan dibuat lebih matang dan dilakukan jauh hari sebelum acara digelar. Pemerintah daerah menargetkan wisatawan agar menginap minimal beberapa hari sehingga belanja dan konsumsi mereka memberikan dampak langsung bagi UMKM.

Tak hanya fokus pada promosi nasional, Pemkab Lobar juga menyiapkan langkah untuk membawa Perang Topat ke tingkat internasional sebagai ikon toleransi dunia. Pemerintah berencana mengundang tokoh agama tingkat pusat, termasuk Kementerian Agama dan MUI, agar dapat menyaksikan langsung praktik kerukunan yang telah dijaga turun-temurun tersebut.

Dengan komitmen kuat serta strategi pengembangan pariwisata yang lebih terarah, Lombok Barat siap menjadikan Perang Topat bukan hanya sebagai tradisi lokal, tetapi sebagai warisan budaya dunia yang menginspirasi toleransi dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Editor : Jelo Sangaji
#Lombok Barat #budaya #KEN #Perang Topat #Pariwisata