LombokPost - Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Kesehatan menetapkan pencegahan penyakit menular sebagai prioritas utama pada tahun 2026. Penyakit yang menjadi atensi serius yakni Tuberkulosis (TB) yang dialami balita stunting.
Komitmen ini diperkuat dengan koordinasi melibatkan kepala desa, camat, puskesmas, serta lintas sektor terkait.
"Kami bersama para kepala desa, camat dan puskesmas menyamakan persepsi sekaligus mengevaluasi capaian program kesehatan daerah," jelas Kepala Dinas Kesehatan Lobar Erni Suryana.
Fokus Dikes Lobar adalah penguatan pencegahan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Bersama pemerintah desa, kecamatan dan puskesmas, pihaknya menyusun rencana aksi yang jelas untuk 2026.
"Siapa berbuat apa, sehingga semua bergerak terarah," kata Erni. Persoalan TB dan stunting dipaparkannya masih menjadi perhatian utama. Terlebih dari hasil skrining terhadap 1.000 anak stunting, ditemukan 125 anak positif TB.
Kasus ini tersebar di seluruh kecamatan di Lombok Barat. Temuan tersebut menunjukkan prevalensi lebih dari 10 persen dan dinilai cukup tinggi.
"Dari sekitar 5.000 anak stunting, baru 1.000 yang diskrining. Skrining ini akan terus kita lanjutkan hingga 2026," ujarnya.
Untuk penanggulangan TB ke depan, Dinas Kesehatan mendorong kolaborasi lintas sektor melalui penguatan Desa Siaga TB.
Saat ini, Lombok Barat telah memiliki 27 Desa Siaga TB yang telah mendeklarasikan komitmen bersama.
Nantinya, pemerintah daerah meminta desa mengalokasikan anggaran khusus untuk kegiatan TB, seperti sosialisasi, transport kader, pelacakan kontak, dan pemeriksaan.
Di sisi lain, puskesmas diminta menyiapkan menu kegiatan pendukung, antara lain peningkatan kapasitas kader dan pendampingan minum obat (PMO).
Hal ini dinilai penting karena pengobatan TB anak membutuhkan waktu lebih lama, yakni hingga satu tahun, sedangkan dewasa enam bulan. Kepatuhan minum obat menjadi kunci agar tidak terjadi resistensi.
Saat ini, capaian pemeriksaan TB di Lombok Barat baru mencapai 53 persen. Ke depan, target pemeriksaan akan ditingkatkan dengan menyasar kontak erat pasien TB.
"Satu orang positif harus ditelusuri minimal 15 orang terdekat untuk diperiksa," jelas Erni. Sementara Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini meminta Dikes Lobar melakukan evaluasi menyeluruh program kesehatan daerah. Ia menekankan pentingnya memperkuat layanan promotif dan preventif sebagai strategi utama menekan angka kesakitan.
"Pencegahan adalah langkah paling efektif melindungi masyarakat. Program kesehatan harus terukur, terpadu, dan berdampak langsung," tegasnya. Bupati berharap koordinasi antara Dikes Lobar, puskesmas dan pemerintah desa melahirkan langkah konkret dan kolaboratif untuk menjawab tantangan kesehatan di Lombok Barat.
Editor : Marthadi