Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Kerja Masaro dan Tantangan yang Dihadapi, Efektif Urai Sampah 20 Ton Jika Dibantu Pemilahan dari Rumah

Hamdani Wathoni • Selasa, 20 Januari 2026 | 10:19 WIB
ALAT MASARO: Inilah alat Masaro yang beroperasi di wilayah Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.
ALAT MASARO: Inilah alat Masaro yang beroperasi di wilayah Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

LombokPost - Pemkab Lombok Barat sedang berupaya menghadirkan solusi atas penanganan sampah yang kini jadi masalah. Alat manajemen sampah zero (Masaro) menjadi salah satu jawaban yang telah dihadirkan.

Deru mesin Masaro sudah mulai beroperasi hampir sebulan terakhir. Kecamatan Lingsar dan Batulayar kini menjadi pilot project penanganan sampah memanfaatkan Masaro. Sebuah sistem yang digadang-gadang menjadi jawaban atas carut-marut persoalan sampah di hilir.

Namun, di balik teknologinya yang mentereng, Masaro saat ini tengah bertarung dengan musuh utamanya ketidaksiapan perilaku masyarakat di hulu. ​Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat M Busyairi mengungkapkan, secara kapasitas mesin, fasilitas Masaro di Lingsar maupun Senteluk memiliki potensi luar biasa. Jika kondisi ideal terpenuhi, satu titik fasilitas ini mampu melahap hingga 20 ton sampah per hari. ​

"Idealnya memang 20 ton. Itu angka yang bisa kita capai kalau semuanya berjalan sempurna," ujar Busyairi kepada Lombok Post. ​

Namun, angka 20 ton itu saat ini masih belum tercapai. Realita di lapangan menunjukkan operasional Masaro baru menyentuh angka 2 hingga 3 truk per hari atau sekitar 10 ton. Setengah dari kapasitas maksimalnya.

Alasannya klasik, sampah yang datang tidak terpilah. ​Busyairi menjelaskan bahwa Masaro bukanlah tong sampah raksasa yang bisa menelan apa saja secara serampangan. Teknologi ini memilah sampah memanfaatkan rotari kemudian dibawa oleh konfeyer ke alat pembuatan kompos untuk sampah organik.

Sementara sampah plastik yang tidak memiliki nilai dibawa konfeyer ke atas insenerator untuk dibakar. Sehingga alat ini membutuhkan input yang spesifik agar outputnya maksimal. Kendala utama yang dihadapi petugas di lapangan adalah kondisi sampah yang basah dan tercampur aduk. ​

"Sampah kita itu datangnya basah. Ini yang membuat proses pembakaran di insinerator menjadi lama. Belum lagi tenaga kita habis untuk memilah secara manual di lokasi. Itu butuh waktu yang tidak sebentar," keluh Busyairi.

​Yang lebih memprihatinkan, Mahdi salah satu petugas teknis di Masaro Lingsar mengaku seringkali menemukan benda-benda yang tidak seharusnya masuk ke mesin pencacah. Mulai dari pecahan kaca (beling), batu bata, kerikil, besi, hingga batok kelapa. Benda-benda keras ini adalah racun bagi mesin Masaro. ​

"Pernah batok kelapa masuk, langsung macet alat pencacah kita. Beling juga begitu. Bahkan mohon maaf, kotoran hewan pun masuk. Ini yang merusak sistem dan memperlambat kerja kita," tambahnya dengan nada getir.

​Jika masyarakat sudah mulai memilah dari rumah memisahkan mana yang plastik bernilai, mana yang organik untuk kompos, dan mana yang benar-benar residu maka beban kerja mesin dan petugas akan jauh lebih ringan. DLH Lobar optimis, jika sampah yang datang sudah kering dan terpilah, volume 20 ton per hari bukan lagi mustahil.

Editor : Jelo Sangaji
#sampah #Masaro #Lombok Barat #Lobar #DLH