
LombokPost – Gonjang ganjing geopolitik hingga efisiensi anggaran memberikan tekanan besar pada industri perhotelan dan restoran di NTB.
Hal tersebut memicu penurunan signifikan pada tingkat hunian (okupansi) hotel di berbagai kawasan wisata unggulan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ketut Wolini mengatakan, rata-rata okupansi hotel saat ini hanya berkisar di angka 50 persen.
Persentase ini berbanding jauh dengan periode sama tahun lalu yang mampu mencapai di atas 70 persen.
Penurunan hunian ini tidak merata di seluruh wilayah. Namun beberapa destinasi utama mencatat angka yang memprihatinkan.
Di Senggigi dan Kota Mataram, okupansi hanya menyentuh angka sekitar 40 persen. Kawasan Mandalika mencapai 60 persen karena didorong oleh adanya kegiatan atau event tertentu. Sementara kawasan Gili mengalami dampak serupa, meski tidak sebesar wilayah lainnya.
Menurut Wolini, isu geopolitik internasional memicu kenaikan harga tiket penerbangan luar negeri yang cukup tinggi.
Hal ini membuat minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia termasuk NTB, menurun karena biaya perjalanan yang mahal serta keharusan transit di beberapa negara.
“Selain itu, penurunan kunjungan wisatawan domestik akibat kondisi ekonomi yang belum stabil turut memperparah tekanan terhadap sektor perhotelan,” terangnya.
Kondisi hunian di angka 50 persen dinilai sangat memprihatinkan bagi keberlangsungan bisnis. PHRI memperingatkan jika situasi ini terus berlanjut, efisiensi operasional dapat berujung pada pengurangan tenaga kerja.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




