LombokPost – PT Air Minum Giri Menang (Perseroda) telah menyelesaikan persoalan kebocoran pipa jaringan air bersih di Rembiga, Kota Mataram.
Kini, PT Air Minum Giri Menang mengambil langkah maju mengantisipasi hal serupa terjadi kembali.
Manajemen menyiapkan digitalisasi pemetaan jaringan untuk mengidentifikasi kebocoran.
"Yang pertama, kami mengucapkan permohonan maaf kepada pelanggan atas perbaikan selama kebocoran. Alhamdulillah berkat dukungan semua pihak khususnya wali kota dan Pemkot Mataram, akhirnya perbaikan sudah selesai dilakukan," buka Direktur Utama PT Air Minum Giri Menang H Sudirman mewakili direksi, Senin (19/1).
Dia memaparkan, persoalan distribusi air bukan sekadar soal debit dan pipa yang tersambung.
Di balik layar, ada pertarungan energi dan presisi pemetaan yang menentukan apakah air sampai ke keran pelanggan dengan lancar atau justru terhambat di tengah jalan.
Menyadari kompleksitas tersebut, PT Air Minum Giri Menang (PTAMGM) kini melakukan perombakan besar-besaran dengan membentuk divisi khusus berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).
Sudirman mengungkapkan, fokus perusahaan tahun ini adalah pembenahan sistem jaringan distribusi secara menyeluruh.
Langkah ini diambil karena masalah distribusi sering kali bukan disebabkan oleh kekurangan energi atau debit air semata, melainkan adanya tabrakan arus energi di dalam pipa.
"Kalau ada dua energi yang berlawanan arah, itu akan mereduksi energi tersebut. Itulah yang sering membuat aliran tidak maksimal," jelasnya.
Selama ini, salah satu tantangan terbesar perusahaan air minum adalah titik buta (blind spot) pada jaringan pipa lama yang letaknya terkadang tidak terdeteksi secara akurat di permukaan.
Untuk mengatasi hal tersebut, PT AMGM telah membentuk bagian khusus setingkat asisten manajer yang mendedikasikan kinerjanya untuk menggambar Masterplan jaringan yang sangat detail.
Sistem ini menggunakan teknologi. Dengan SIG, setiap jengkal pipa, baik jalur transmisi maupun distribusi, akan terdata secara digital.
"Mulai tahun ini, kami membangun bagian khusus SIG. Tujuannya agar tidak ada satu pun pipa, apa pun jenis dan namanya, yang tidak kami ketahui posisinya dan terkoneksi di mana," tegasnya.
Langkah ini dianggap sebagai lompatan besar dalam manajemen infrastruktur.
Dengan peta digital yang akurat, petugas lapangan tidak perlu lagi menebak-nebak posisi pipa saat terjadi kebocoran atau pemeliharaan rutin.
Semua data tersaji secara real-time di layar monitor.
Selain pemetaan lewat SIG, PTAMGM juga memperkuat penggunaan teknologi pressure logger.
Alat ini berfungsi untuk memantau tekanan air secara konsisten di berbagai titik jaringan.
Dengan data dari pressure logger, tim teknis bisa mendeteksi secara dini jika terjadi penurunan tekanan yang tidak wajar, yang biasanya menjadi indikator adanya kebocoran atau sumbatan.
Sudirman mengakui bahwa rencana ini sebenarnya sudah masuk dalam radar manajemen sejak lama.
Namun, karena jajaran direksi baru mulai menjabat pada pertengahan tahun lalu, penyesuaian baru bisa dilakukan secara penuh pada struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) tahun ini.
"Saking pentingnya masalah ini, kami melakukan penyesuaian SOTK di awal tahun. Kami ingin fokus pada pembenahan sistem ini agar pelayanan ke pelanggan jauh lebih stabil," tambahnya.
Evaluasi terhadap sistem distribusi ini juga dipicu oleh beberapa kejadian di lapangan yang menjadi bahan pembelajaran penting bagi perusahaan.
Sudirman menekankan bahwa setiap kendala teknis yang terjadi di lokasi tertentu dijadikan hikmah untuk memperbaiki sistem secara keseluruhan.
Transformasi menuju digitalisasi jaringan ini diharapkan mampu menekan angka kehilangan air (Non-Revenue Water) dan memastikan distribusi air yang lebih merata ke wilayah-wilayah yang selama ini sering mengalami gangguan tekanan.
Bagi PTAMGM, investasi pada teknologi SIG dan pressure logger bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kepercayaan pelanggan di Lombok Barat dan Kota Mataram.
"Ini adalah upaya kita agar ke depan tidak ada lagi masalah klasik soal distribusi yang terganggu karena ketidaktahuan kita atas posisi jaringan sendiri," paparnya.
Yang tak kalah penting Sudirman memastikan setiap keluhan pelanggan wajib ditindaklanjuti 24 jam.
Ini merupakan bagian dari komitmen PT Air Minum Giri Menang meningkatkan pelayanan.
Editor : Kimda Farida