LombokPost – Kabar mengejutkan datang dari sektor pariwisata Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Salah satu event budaya andalan, Perang Topat, dipastikan absen dari daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun 2026.
Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, tradisi sakral di Pura Lingsar ini selalu menjadi langganan kalender nasional besutan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut. Menanggapi hal ini, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tidak tinggal diam.
Ia mengaku akan segera memanggil jajaran Dinas Pariwisata (Dispar) untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Pria yang karib disapa LAZ tersebut menekankan perlunya evaluasi mendalam mengenai standar yang kini diterapkan oleh pemerintah pusat.
"Nanti kita tanyakan ke Dinas Pariwisata, apa kriteria yang tidak tercapai itu. Itu yang akan kita perbaiki ke depan," tegas Bupati LAZ.
Bupati merasa heran dengan hilangnya posisi Perang Topat dalam list bergengsi tersebut. Pasalnya, secara historis dan kemasan, event ini dinilai memiliki nilai jual tinggi dan keunikan yang kuat terkait toleransi umat beragama.
LAZ menduga ada perubahan spesifikasi atau standar penilaian dari tim kurator KEN yang belum terakomodasi dengan baik oleh tim teknis daerah. "Jangan-jangan mungkin ada kriteria baru yang dikeluarkan oleh KEN yang kita tidak tahu. Itu dulu kita pelajari," imbuhnya dengan nada serius.
Bupati juga menyoroti adanya tahapan wawancara dalam proses seleksi KEN yang diduga menjadi titik lemah. Ia berencana mendalami sejauh mana kesiapan narasumber dari pihak dinas saat memaparkan proposal di hadapan tim penguji.
"Kalau informasinya tidak lolos di wawancara, ya nanti (Kepala Dinas Pariwisata) kita panggil," tambahnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Lobar Agus Gunawan mengonfirmasi bahwa meskipun Perang Topat tidak masuk dalam list KEN tahun ini, masyarakat tidak perlu khawatir. Ia menjamin tradisi turun-temurun ini akan tetap dilaksanakan dengan skala yang tetap megah.
Agus menjelaskan bahwa rangkaian acara Perang Topat yang dilaksanakan Bulan November hingga Desemer 2025 lalu bukan sekadar mengejar status nasional, melainkan bentuk pelestarian budaya dan tanggung jawab pemerintah daerah kepada masyarakat adat.
"Karena itu kan sudah masuk Calender of Event kami di Dinas Pariwisata Lobar. Acaranya akan kami laksanakan lebih meriah," jelas Agus. Menurutnya, anggaran dan persiapan teknis sudah mulai disusun. Dispar Lobar berkomitmen menjadikan ketidakhadiran di KEN tahun ini sebagai pelecut semangat untuk mengemas acara lebih profesional lagi.
Ia yakin, dengan daya tarik orisinalitas yang dimiliki Lingsar, wisatawan baik domestik maupun mancanegara akan tetap memadati lokasi acara. "Perang Topat kami harapkan tetap menjadi magnet pariwisata utama di Pulau Lombok," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida