Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Blower Ngadat, Mesin Pengolah Sampah Masaro Belum Maksimal

Hamdani Wathoni • Minggu, 8 Maret 2026 | 13:00 WIB

BELUM OPTIMAL: Mesin Masaro yang ada di TPST Senteluk Batulayar Lombok Barat sampai saat ini belum maksimal menangani persoalan sampah.
BELUM OPTIMAL: Mesin Masaro yang ada di TPST Senteluk Batulayar Lombok Barat sampai saat ini belum maksimal menangani persoalan sampah.

LombokPost – Pengoperasian mesin pengolah sampah Masaro di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Senteluk, Kecamatan Batulayar, belum berjalan maksimal.

Selain dipengaruhi kondisi sampah yang belum terpilah, faktor cuaca dan gangguan teknis juga memengaruhi kinerja mesin tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat M Busyairi menjelaskan, mesin Masaro sebenarnya mampu mengolah sampah hingga 20 ton per hari jika berada dalam kondisi ideal.

Artinya, sampah yang masuk ke mesin sudah terpilah dan dalam kondisi kering.

"Kalau kondisi sampah ideal, yakni terpilah dan kering, mesin bisa bekerja maksimal hingga sekitar 20 ton per hari," ujarnya.

Namun di lapangan, kondisi tersebut masih sulit terpenuhi.

Sampah yang masuk ke mesin sering kali masih bercampur dengan berbagai jenis material keras seperti besi, beling, hingga batok kelapa.

Kondisi ini berpotensi mengganggu proses kerja mesin. Busyairi menjelaskan, jika sampah tidak terpilah maka proses pengolahan akan memakan waktu lebih lama.

Selain itu, tenaga pemilah di lokasi juga harus bekerja ekstra untuk memisahkan berbagai jenis sampah sebelum diproses lebih lanjut.

"Kalau sampah tidak terpilah, prosesnya lebih lama dan tenaga pemilah harus bekerja lebih keras," katanya.

Kendala lainnya adalah faktor cuaca. Saat musim penghujan seperti sekarang, sebagian besar sampah dalam kondisi basah.

Hal ini membuat proses pengolahan di mesin menjadi lebih lambat.

Sampah basah dapat menyebabkan material menempel dan menumpuk di bagian rotari mesin.

Karena itu, pengaturan aliran sampah dari hopper menuju conveyor harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menyebabkan kemacetan pada mesin.

"Kalau sampah basah, proses dari rotari sampai pembakaran di insinerator juga membutuhkan waktu lebih lama," jelas Busyairi.

Meski demikian, DLH Lombok Barat pernah melakukan uji coba pengolahan sampah kering dan terpilah yang berasal dari hotel.

Hasilnya, dua truk sampah dapat diolah hingga habis dalam waktu kurang dari dua jam dengan menggunakan dua sisi mesin Masaro.

Jika dihitung dengan waktu operasional mesin yang dibeli dengan anggaran 10 miliar per unit ini harusnya bisa delapan jam per hari.

Maka setidaknya delapan truk sampah dapat diproses.

Dengan rata-rata berat sampah sekitar tiga ton per truk, total sampah yang bisa diolah bahkan bisa melebihi 20 ton per hari.

"Artinya sebenarnya mesin ini cukup mampu jika kondisi sampah mendukung," ujarnya.

Dari sisi sumber daya manusia, Busyairi mengatakan para petugas sebenarnya sudah mendapatkan pelatihan.

Namun mereka tetap harus bekerja ekstra karena harus memilah berbagai jenis sampah sebelum masuk ke mesin pengolahan.

Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir mesin Masaro di TPST Senteluk sempat tidak beroperasi akibat gangguan pada bagian blower.

Gangguan tersebut membuat asap hasil pembakaran tidak dapat keluar secara maksimal melalui cerobong yang telah dilengkapi sistem smokeless.

Untuk menghindari dampak buruk bagi lingkungan, operasional mesin sementara dihentikan hingga proses perbaikan selesai.

"Perbaikan sudah mulai dikerjakan tim teknis Masaro karena saat ini masih dalam masa pemeliharaan dan menjadi tanggung jawab penyedia," tandasnya. 

Editor : Kimda Farida
#belum optimal #ngadat #sampah #Masaro #Lombok Barat #gangguan