SAKRAL: Inilah Air Terjun Tibu Ijo yang menjadi salah satu sumber Pamsimas warga desa. (TONI/LOMBOK POST)LombokPost - Masyarakat Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat tak bisa dipisahkan dengan alam.
Rerimbunan hutan dan aliran sungai hingga air terjun menjadi sumber mereka mencari nafkah dan sumber kebutuhan dasar.
Di balik rimbunnya vegetasi Desa Kekait, suara gemuruh air jatuh menjadi musik harian yang menenangkan sekaligus menyimpan misteri.
Baca Juga: Air Terjun Tibu Ijo yang Viral, Antara Zamrud Alam Membius dan Tabu Tak Boleh Dilanggar
Air Terjun Tibu Ijo, sebuah permata tersembunyi yang belakangan menjadi buah bibir, bukan sekadar destinasi wisata bagi warga lokal.
Ia adalah sumber energi, napas kehidupan, sekaligus pengingat tentang harmoni antara manusia dan alam yang tak boleh dilanggar.
Secara visual, Tibu Ijo memang menghipnotis. Penamaannya bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Tibu Ijo Resmi Terlarang untuk Umum
Warna airnya yang hijau pekat nan jernih menjadi daya tarik utama. Namun, warna hijau tersebut sebenarnya menyimpan peringatan bagi siapa pun yang datang.
Kedalamannya konon setara dengan tiga batang bambu dewasa yang disambung. Kedalaman inilah yang membiaskan warna hijau zamrud yang ikonik, namun sekaligus menjadi jebakan bagi mereka yang jemawa.
Belakangan, nama Tibu Ijo sempat viral karena rentetan peristiwa pengunjung yang tenggelam dan hanyut.
Baca Juga: Tragedi Wisata Tibu Ijo: Warga Ampenan Terseret Arus, Tim SAR Lakukan Pencarian Intensif
Namun, bagi masyarakat sekitar, air terjun ini bukanlah pembunuh. Sebaliknya, ia adalah pemberi hidup.
”Bagi kami, ini adalah sumber kehidupan. Masyarakat masih sering bermain dan berenang di sini karena airnya memberikan energi baru,” ujar Kudbi, Kasi Pemerintahan Desa Kekait.
Ada satu hukum tidak tertulis yang dipegang teguh warga setempat yakni etika. Di Tibu Ijo, pengunjung dilarang memiliki niat buruk atau melanggar norma kesopanan.
Masyarakat percaya, selama niat datang murni untuk mandi dan menjaga kelestarian alam tanpa merusak, alam akan menyambut dengan tangan terbuka. Keselamatan di sini bukan hanya soal kemampuan berenang, tapi juga soal menjaga hati dan membaca tanda-tanda alam.
Potensi Tibu Ijo sebagai magnet wisata sebenarnya sudah masuk dalam radar pemerintah desa. Namun, jalannya tidak sederhana. Kepala Desa Kekait Masjudin Dahlan mengungkapkan pengelolaan Tibu Ijo memerlukan sinergi lintas batas.
”Wilayah ini beririsan dengan tiga desa, Desa Lembah Sari, Desa Kekait, dan Desa Pusuk Lestari. Perlu duduk bersama untuk membicarakan bagaimana pengelolaannya ke depan agar lebih aman dan terjamin keselamatannya,” ungkap Masjudin.
Untuk saat ini, demi keamanan, Tibu Ijo masih tertutup bagi wisatawan umum. Pada pintu masuk tertulis air terjun ini terlarang bagi wisatawan agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia. Fokus utama saat ini adalah pemanfaatan air bersih untuk kebutuhan warga yang dikelola Bumdes melalui program Pamsimas.
Meski akses wisata masih dibatasi, Tibu Ijo tidak pernah kehilangan pesonanya. Ia tetap berdiri megah, mengalirkan kehidupan bagi ribuan warga di bawahnya, sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyapa dunia dengan wajah yang lebih ramah dan tertata. Sebuah pengingat bahwa di hadapan alam, manusia hanyalah tamu yang harus tahu tata krama. (HAMDANI WATHONI, Lombok Barat/r8)
Editor : Redaksi