Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

​Kala Arya Kamandanu Hadapi Macan Loreng di Arena Presean

Hamdani Wathoni • Rabu, 22 April 2026 | 12:39 WIB
​HORMAT: Pepadu legendaris Arya Kamandanu (kanan) saat bersiap menghadapi Macan Loreng (kiri), Senin (20/4). (TONI/Lombok POST)
​HORMAT: Pepadu legendaris Arya Kamandanu (kanan) saat bersiap menghadapi Macan Loreng (kiri), Senin (20/4). (TONI/Lombok POST)

LombokPost - Hari Senin (20/4) akan dikenang sebagai sejarah pertarungan dua nama besar di dunia Presean. Ini adalah laga yang menjadi pusat perhatian dan pembicaraan di kalangan masyarakat Gumi Sasak.

Sang Legenda Menguji Napas Prajurit, Jadi Pertarungan yang Sempurna.

Matahari di kawasan Colosseum Taman Kota Gerung, Senin (20/4), terasa lebih menyengat dari biasanya. Namun, ribuan pasang mata yang memadati arena tak bergeming.

Baca Juga: Dispar Mataram Mulai Rancang Teknis Presean Setiap Bulan di Loang Baloq, Sambutan Antusias dari Warga Berdampak Besar ke Ekonomi

Mereka datang bahkan sejak pukul 14.30 Wita untuk satu alasan, menyaksikan perang para bintang dan legenda adu ketangkasan. Padahal acara baru akan dimulai pukul 16.00 Wita. Ini akibat dua nama besar dalam dunia peresean, Arya Kamandanu melawan Macan Loreng bertarung hari itu.

​Duel ini bukan sekadar pertandingan biasa. Di satu sisi, ada Haji Rizal, pria senja berusia 65 tahun yang lebih dikenal dengan nama panggung Arya Kamandanu.

Di sisi lain, berdiri kokoh Macan Loreng, atau Muhrim, seorang prajurit TNI aktif yang usianya terpaut jauh lebih muda. Pertemuan ini adalah personifikasi dari pengalaman melawan tenaga, sejarah melawan masa depan.

Baca Juga: Loang Baloq Disulap Jadi “Colosseum Mataram", Panggung Presean Rutin Penjaga Warisan Budaya

​Begitu peluit tanda babak pertama ditiup, atmosfer langsung memanas. Arya Kamandanu, dengan ketenangan seorang begawan, langsung menunjukkan dominasi teknisnya. Meski usianya sudah tidak muda, gerakannya masih lincah, memancing lawan dengan tipu daya khas pepadu kawakan.

​Namun, Macan Loreng tak mau kalah gertak. Sebagai prajurit, ia mengambil inisiatif serangan lebih dulu. Saling sabet menggunakan penjalin (rotan) dan tangkisan menggunakan ende (perisai) menciptakan bunyi berdebum yang memacu adrenalin penonton.

​Ketegangan memuncak di babak pertama ketika jempol tangan Arya Kamandanu terkena sabetan rotan Macan Loreng hingga berdarah. Petugas medis sempat memberikan perawatan kilat. Alih-alih meredup, luka itu justru seolah menjadi bensin bagi semangat sang legenda.

Baca Juga: Bea Cukai Gandeng Pemkab Lombok Utara Tekan Perederan Rokok Ilegal Melalui Event Presean

Di babak kedua dan ketiga, Arya Kamandanu tampil perkasa, melakukan jual beli pukulan yang membuat penonton serentak berdiri dan bersorak histeris.

​Memasuki babak keempat, faktor fisik mulai berbicara. Napas kedua pepadu mulai memburu. Di sinilah Arya Kamandanu menunjukkan kelasnya dalam mengatur ritme dan stamina. Sementara itu, Macan Loreng lebih banyak bermain taktis dengan bertahan sembari sesekali melepaskan serangan balik yang tajam.

​Usai laga yang berlangsung selama 15 menit tersebut, ketegangan di arena luruh menjadi pelukan hangat. Macan Loreng tak segan menunjukkan rasa hormatnya kepada sang senior. ”Saya mengapresiasi mental beliau. Kami menghadapi orang senior yang punya pengalaman luar biasa dari zaman dulu sampai usia 65 tahun ini,” ujar Macan Loreng dengan nada kagum.

Ia mengaku, meski awalnya berniat istirahat dari arena, desakan netizen yang merindukan duel klasik ini membuatnya kembali memegang penjalin.

​Arya Kamandanu pun membalas dengan pujian. Baginya, kemenangan sesungguhnya adalah lestarinya budaya Presean di tanah sasak. ”Bagus sekali lokasinya, ini sudah lebih dari sekadar olahraga, ini adalah jiwa,” tuturnya. (HAMDANI WATHONI, Lombok Barat/r8)

Editor : Redaksi
#gumi sasak #penonton #Presean #pertarungan #Gerung