Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stok Gas Melon di Lobar Dipastikan Aman, Kenaikan Harga Dipicu Permintaan dan Biaya Distribusi

Hamdani Wathoni • Jumat, 8 Mei 2026 | 07:31 WIB
CEK STOK: Tim dari Disperindag Lobar bersama tim Kecamatan Gerung saat melakukan pemantauan distribusi dan harga di salah satu pangkalan di wilayah Gerung, Rabu (6/5).
CEK STOK: Tim dari Disperindag Lobar bersama tim Kecamatan Gerung saat melakukan pemantauan distribusi dan harga di salah satu pangkalan di wilayah Gerung, Rabu (6/5).

LombokPost - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lobar bersama pihak kecamatan melakukan pemantauan langsung terhadap distribusi dan harga LPG 3 kilogram (gas melon) di wilayah Kecamatan Gerung.

Hasilnya, pasokan di tingkat pangkalan terpantau masih normal, meskipun terdapat variasi harga di tingkat pengecer yang dikeluhkan masyarakat.

 ”Kami turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi riil. Dari hasil pemantauan di empat pangkalan, distribusi dan pasokan masih normal,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lobar Moh Adnan, Rabu (6/5).

Dia menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan di sejumlah pangkalan dan pengecer untuk mengidentifikasi dugaan anomali distribusi yang memicu isu kelangkaan.

Empat pangkalan yang dipantau berada di Desa Giri Tembesi, Kelurahan Gerung Utara, Kelurahan Dasan Geres, dan Desa Tempos. Di lokasi tersebut, tidak ditemukan pengurangan jatah dari agen, dengan harga tetap sesuai HET sebesar Rp 18.000 per tabung.

Baca Juga: Sampah Dapur MBG Diharapkan Diolah Jadi Pakan Magot dan Biogas

Namun demikian, pihak pangkalan mengakui adanya peningkatan permintaan dari pengecer. Hal ini dipicu meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama menjelang musim haji dan maraknya acara pernikahan. 

Dalam sepekan, rata-rata distribusi gas melon ke pangkalan berkisar antara 400 hingga 600 tabung, dengan jadwal pengiriman yang bervariasi, mulai dari harian hingga dua kali dalam seminggu, tergantung kesepakatan dengan agen.

Sementara itu, di tingkat pengecer, harga gas melon ditemukan bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 23.000 per tabung. Selisih harga ini dipengaruhi sistem distribusi. Pengecer yang mengambil langsung ke pangkalan cenderung menjual dengan harga lebih rendah, yakni sekitar Rp 20.000. 

Sedangkan pengecer yang mendapatkan pasokan melalui pengantaran dari pangkalan menjual dengan harga lebih tinggi akibat tambahan biaya transportasi sebesar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per tabung.

”Distribusi saat ini diatur Pertamina hanya sampai pangkalan. Pembelian juga dilakukan melalui aplikasi, dan HET sudah ditentukan. Namun di tingkat pengecer belum ada regulasi yang mengatur harga, sehingga ada potensi kenaikan,” jelas Adnan.

Camat Gerung Fitriati Wahyuni turut menegaskan, kondisi di lapangan tidak menunjukkan adanya kelangkaan signifikan. Berdasarkan hasil tinjauan di sejumlah titik seperti Giri Tembesi, Gerung Utara, Tempos, Banyu Urip, dan Dusun Geres, stok LPG di beberapa pengecer justru masih tersedia dalam jumlah cukup.

Baca Juga: Siswa SDN 5 Kotaraja Belajar di Ruang Kelas Nyaris Roboh

”Informasi harga Rp 25 ribu sampai Rp 27 ribu memang beredar di masyarakat, tetapi dari hasil pantauan langsung, harga di pengecer masih berkisar Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kecenderungan masyarakat membeli langsung ke pangkalan karena harga lebih murah turut memengaruhi kondisi stok di pengecer. Akibatnya, tabung gas melon di tingkat pengecer tidak cepat habis dan cenderung mengendap lebih lama.

Selain itu, tim juga melakukan pemantauan terhadap penggunaan di sektor usaha, khususnya di dua SPPG di Gerung Utara 2 dan Banyu Urip. Hasilnya, tidak ditemukan penggunaan gas melon. Kedua SPPG tersebut menggunakan LPG non-subsidi ukuran 12 kilogram. (ton/r8)

Editor : Pujo Nugroho
#sidak #langka #Lombok Barat #Subsidi #gas 3 kg