Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tradisi Sasak Naik Kelas, LAZ Sulap Peresean Malam Hari Jadi Magnet Baru Wisata 

Hamdani Wathoni • Senin, 11 Mei 2026 | 23:24 WIB
DUEL KLASIK: Dua orang pepadu tampil dalam gelaran peresean malam hari di Koloseum Taman Kota Gerung, Lombok Barat, Sabtu malam (9/5).
DUEL KLASIK: Dua orang pepadu tampil dalam gelaran peresean malam hari di Koloseum Taman Kota Gerung, Lombok Barat, Sabtu malam (9/5). (Toni/Lombok Post)

LombokPost - Lazimnya, event budaya peresean digelar sore hari. Namun di Lombok Barat, peresan kini digelar malam hari setiap akhir pekan di Koloseum Taman Kota Gerung.

Suara tabuhan gendang memecah kesunyian malam di Kabupaten Lombok Barat. Di tengah arena yang diterangi sorot lampu, dua lelaki bertelanjang dada bersiap dengan penjalin di tangan kanan dan ende di tangan kiri.

Ini bukan sekadar pertarungan, melainkan geliat baru budaya Sasak yang kini naik kelas ke panggung malam kota.

​Selama ini, Peresean identik dengan debu lapangan desa yang mengepul di bawah terik matahari siang. Namun, di tangan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, tradisi adu ketangkasan ini bertransformasi menjadi magnet hiburan malam yang elegan.

”Ini adalah bagian dari ikhtiar saya untuk menghidupkan Kota Gerung. Ternyata respons masyarakat luar biasa,” ujar Bupati LAZ.

​Bupati LAZ melihat potensi besar peresean sebagai ikon pariwisata Lombok. Tak main-main, ia menggandeng Kanwil Kemenkum untuk melegalkan gelaran ini sebagai agenda rutin. ”Peresean biasanya siang hari, tapi kali ini kita buat malam hari agar menjadi event khas. Kita akan daftarkan di Kemenkum,” katanya.

Baca Juga: ​Kala Arya Kamandanu Hadapi Macan Loreng di Arena Presean

Masyarakat saat ini menurutnya butuh banyak hiburan. Pelaksanaan peresean di malam hari memberikan atmosfer yang berbeda, lebih meriah 

​Transformasi waktu ini rupanya disambut hangat oleh warga. 

Suryadi Jaya Purnama, salah satu warga yang hadir mengaku bangga melihat tradisi leluhurnya kini tampil lebih terhormat di pusat kota. ”Dulu peresean itu dianggap olahraga pinggiran, mainnya di sawah, pakai sarung. Tapi sekarang, lewat program pak bupati, peresean dibuat jadi lebih terhormat. Insya Allah, dengan kemasan seperti ini, peresean akan mendunia,” ungkap Suryadi yang juga mantan anggota DPRD NTB tersebut.

Namun, menyelenggarakan atraksi budaya di malam hari tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama soal teknis pencahayaan. Junaidi Ojah, seorang pemerhati budaya yang turut mengawal jalannya acara, memberikan catatan penting terkait evaluasi pertandingan.

”Sebenarnya ini bukan hal baru, dulu pernah ada namun jarang. Sekarang kita benahi lagi agar lebih hidup,” kata Junaidi. 

Ia mengakui ada beberapa kendala teknis, terutama masalah pencahayaan yang belum maksimal menjangkau area arena secara detail.

Baca Juga: QRIS Crossborder di NTB Tumbuh 113,91 Persen

​”Kami dari panitia merasa masih ada kekurangan, terutama lampu yang kurang dekat ke arena. Tapi ini proses. Insya Allah minggu depan kita usahakan lampunya lebih dekat agar penonton bisa melihat setiap gerakan pepadu dengan jelas,” jelas Junaidi.

Rencananya, hiburan rakyat ini akan menjadi agenda tetap setiap akhir pekan, yakni pada Jumat malam dan Sabtu malam. Dengan begitu, warga yang sibuk bekerja di siang hari tetap bisa menikmati warisan budaya sembari bersantai bersama keluarga. (*/r8))

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#cfn #Kota Gerung #Lombok Barat #Lobar #Peresean