LombokPost--Selain konsisten melestarikan mangrove, sejumlah nelayan Dusun Madak Belek, Desa Persiapan Empol, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok barat juga melakukan budi daya kepiting bakau.
Mereka saat ini menerapkan sistem vertical crab house alias apartemen kepiting, dalam upaya pembesaran dan penggemukan kepiting.
Sistem tersebut merupakan teknologi terbarukan budi daya kepiting bakau yang telah diterapkan sejak tahun 2024 lalu.
Pengelola kepiting bakau Bagek Kembar, Agus Alwi menyampaikan, warga memilih menggunakan sistem apartemen kepiting ini karena memiliki banyak manfaat, seperti menghemat lahan, meminimalkan risiko kematian kepiting akibat kanibalisme, memaksimalkan upaya penggemukan maupun pengontrolan, serta mencegah potensi gangguan eksternal dari biawak, ular, maupun tikus.
“Biasanya sistem yang diterapkan ada tiga, ada yang apartemen begini, ada yang di Alam sama di Tambak, Kalai ditambak dia kan di alam, kalau sistem ini membuat kontrol pemberian pakan menjadi lebih mudah, menekan angka kematian kepiting, dan mempermudah saat panen,” ucap Agus kepada LombokPost, Kamis (2/7).
Sebelum menerapkan sistem apartemen kepiting, pihaknya melakukan budi daya kepiting bakau dengan menerapkan budidaya alam.
Metode itu tergolong konvensional, yaitu dengan memanfaatkan tambak jaring tancap pada area pembesaran kepiting di habitat asli kepiting bakau.
Baca Juga: Begini Alasan Jaksa Bebankan IJU Bayar Rp 400 Juta dalam Tuntutan Perkara Gratifikasi DPRD NTB
Setelah berumur 2 hingga 3 bulan, kepiting tersebut langsung dipindahkan ke apartemen untuk pembesaran dan penggemukan.
"Dengan menggunakan metode apartemen ini, kita dapat meningkatkan budi daya," katanya.
Apartemen kepiting ini bisa dibilang layaknya kandang khusus pembesaran hewan. Dalam setiap box berisi 1 kepiting yang tersusun berjejer secara vertikal menyerupai apartemen. Box itu dikondisikan layaknya habitat kepiting berkembang biak.
Air input yang sudah diolah melalui daur ulang akan memenuhi kebutuhan kepiting. Kotoran kepiting akan dikeluarkan melalui sirkulasi air, untuk difiltrasi RAS (Recirculating Aquaculture System) dan dikembalikan lagi ke apartemen.
Dijelaskan Agus, metode ini bertujuan mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan kepiting, dan mengurangi jumlah penggunaan air. Dengan demikian, kualitas air juga akan tetap terjaga, pemberian pakan yang terkontrol, dan mempermudah pengawasan.
“Memang harus tetap kita kontrol, karena nanti ada saja yang rusak seperti pipa misalnya dan tidak jarang juga kepitingnya kabur kalau pintu ini tidak kita kuatkan tutupnya," paparnya.
Dari 50 box apartemen yang dimiliki, saat ini lalu Agus berhasil menghasilkan sekitar 25 kilogram kepiting, dengan omzet lebih dari 6 juta rupiah per sekali panen. Kendati demikian, proses panen diakui Agus berlangsung secara bertahap.
"Proses panen kita tidak bisa sekaligus, modelnya kita parsial (tidak lengkap) dan biasanya kita hanya panen kepiting yang sudah besar dari mulai beratnya 300 gram hingga 1.000 gram," ucapnya.
Baca Juga: DPRD Soroti Infrastruktur Bermasalah hingga Kelebihan Bayar Rp 11,27 miliar
Untuk pasar sendiri, Lalu Agus mengaku tidak kelabakan karena pembeli biasanya lansung datang ke tempatnya. Tidak hanya itu, untuk mempermudah pasar, ia juga membuka paket makan di tempat bagi pengunjung atau wisatawan yang datang.
"Banyak juga tamu wisatawan yang datang kesini memesan kepiting dan mereka lansung bisa pilih sendiri yang mana mau di masak," pungkasnya. (Yki)
Editor : Kimda Farida