LombokPost – Pemerintah Kecamatan Lingsar memperketat langkah mitigasi guna mengantisipasi berbagai potensi bencana akibat dampak fenomena El Nino.
Upaya edukasi dan advokasi kepada masyarakat telah digencarkan secara masif sejak beberapa bulan terakhir melalui seluruh lini kegiatan tingkat desa hingga momentum keagamaan.
"Langkah advokasi dampak El Nino ini sudah kami mulai sejak bulan Maret lalu dengan mengingatkan warga di setiap forum kegiatan keagamaan maupun tingkat desa," kata Camat Lingsar Marzuky saat memaparkan pemetaan potensi kebencanaan di wilayahnya.
Baca Juga: Kecamatan Perketat Mitigasi Bencana di Wilayah Rawan
Imbauan yang disampaikan mencakup edukasi pencegahan kebakaran pemukiman maupun lahan.
Warga diminta untuk memastikan api padam sepenuhnya saat membakar sampah, tidak meninggalkan kompor menyala, serta menggunakan instalasi listrik bermutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) guna meminimalisasi risiko korsleting.
Selain ancaman kebakaran, dampak El Nino juga mulai memicu penurunan debit air bersih di sejumlah wilayah desa dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Jaga Rumah Adat, Desa Wisata Sasak Ende Perkuat Mitigasi Bencana
Penurunan pasokan air bumi ini menyita perhatian serius lantaran wilayah Kecamatan Lingsar pernah mengalami krisis air bersih cukup parah.
"Debit air mulai terasa berkurang dalam tiga hingga empat minggu terakhir, bahkan ada beberapa desa yang debit airnya sudah kecil sekali," ujarnya.
Guna mengatasi ancaman kekeringan jangka panjang, pihak kecamatan membangun kolaborasi bersama BPBD Lombok Barat, Damkarmat, Polresta Mataram, hingga KPH Rinjani Barat.
Baca Juga: Rekonstruksi Kawasan Adat Sade Berbasis Mitigasi Bencana
Salah satu program konkret yang dijalankan adalah penanaman pohon penyerap air, seperti beringin, di sepanjang jalur irigasi hutan masyarakat.
Terkait percepatan penanganan musibah kebakaran, Pemkab Lombok Barat juga tengah merencanakan pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkarmat baru guna memangkas jarak tempuh armada menuju wilayah Lingsar dan Narmada.
Sementara untuk penanganan pohon tumbang, pihak kecamatan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk meranting pohon yang rawan roboh.
Peta kerawanan bencana di wilayah Lingsar terbilang mengalami penurunan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Potensi ancaman yang tersisa kini didominasi skala kecil, seperti genangan air maupun longsor ringan di beberapa titik rawan.
"Kunci utama menghadapi potensi bencana ini adalah semangat gotong royong dan kolaborasi erat dari seluruh lapisan elemen masyarakat," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Darurat Kekeringan Kabupaten Lombok Barat Tahun 2026.
Pertemuan strategis lintas sektor ini dilaksanakan guna menyatukan langkah dan respon cepat dalam mengantisipasi krisis air bersih serta kebutuhan dasar warga akibat dampak kemarau.
"Rakor ini menjadi wadah penting untuk menyelaraskan langkah seluruh pihak agar penanganan dampak kekeringan dapat berjalan cepat, tepat sasaran, dan terpadu," ujar Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha dalam arahannya saat memimpin konsolidasi bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Sejumlah agenda utama dibahas secara mendalam dalam rakor tersebut, meliputi pemetaan menyeluruh terhadap wilayah desa maupun kecamatan yang mulai terdampak kekeringan.
Diskusi juga menyoroti pemenuhan pasokan serta skema distribusi air bersih agar menjangkau area permukiman yang mengalami kelangkaan air secara merata.
Kesiapan sarana pendukung seperti armada mobil tangki air, peralatan pompa, hingga kesiapsiagaan personel teknis di lapangan turut menjadi poin evaluasi kritis.
Pemkab Lobar memastikan seluruh infrastruktur tanggap darurat berada dalam kondisi siap siagakan demi menjamin kelancaran penyaluran bantuan ke masyarakat.
"Penguatan koordinasi antar-OPD, jajaran pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa menjadi kunci utama agar alur informasi krisis air dapat ditangani tanpa hambatan," katanya.
Mekanisme penanganan darurat yang dirumuskan tidak hanya berfokus pada solusi jangka pendek berupa penyaluran air bersih, tetapi juga menyentuh langkah antisipasi berkelanjutan.
Kolaborasi bersama BPBD, PDAM, serta dinas terkait diarahkan untuk membangun ketahanan pangan dan lingkungan dalam jangka panjang.
Melalui konsolidasi terpadu ini, Pemkab Lombok Barat optimistis dampak buruk akibat fenomena musim kemarau panjang dapat ditekan secara maksimal.
Seluruh jajaran di tingkat kecamatan dan desa diimbau untuk aktif melaporkan perkembangan debit air di wilayah masing-masing secara berkala.
"Upaya bersama ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat serta memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat," pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post