LombokPost - Pendidikan alternatif berbasis kepedulian lingkungan tumbuh subur di pelosok pesisir Kabupaten Lombok Barat.
Kehadiran Sekolah Alam Anak Pesisir menjadi tumpuan harapan bagi anak-anak di kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar.
Proses pembelajaran unik ini memanfaatkan kerimbunan hutan bakau sebagai laboratorium alam terbuka yang kaya ilmu pengetahuan.
Gemericik air laut dan hembusan angin pesisir mengiringi gelak tawa puluhan anak di Dusun Madak Beleq, Desa Cendimanik, Sekotong.
Di kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar, aktivitas pembelajaran tak bersakat dinding semen atau papan tulis kaku.
Kehadiran Sekolah Alam Anak Pesisir menjadi tumpuan harapan baru sekaligus bukti nyata geliat pendidikan pesisir Sekotong yang makin berkembang pesat di wilayah pesisir.
Baca Juga: 1 dari 7 Remaja Alami Gangguan Kesehatan Mental, Sekolah Diminta Jadi Ruang Aman
Lembaga nonformal yang dirintis sejak tahun 2022 ini memanfaatkan rimbunnya ekosistem mangrove sebagai laboratorium alam terbuka.
Saban akhir pekan, sekitar 50 anak dari jenjang TK hingga SMP berkumpul menimba ilmu.
Lewat Sekolah Alam Anak Pesisir, wawasan kebaharian diajarkan secara langsung di alam bebas, menjadikan pendidikan pesisir Sekotong terasa jauh lebih menyenangkan, hidup, dan aplikatif bagi generasi muda lokal.
Kurikulum yang ditawarkan sengaja dirancang tak biasa. Selain mengasah fondasi dasar calistung (membaca, menulis, dan berhitung), para siswa diajak menyelami literasi kemaritiman dan konservasi ekosistem.
Kawasan Mangrove Bagek Kembar menjadi ruang praktik nyata di mana anak-anak diajarkan mengenali keragaman biota laut sekaligus memahami fungsi vegetasi bakau dalam mencegah abrasi pantai. Pendekatan ini memperkuat karakter pendidikan pesisir Sekotong yang berwawasan lingkungan berkelanjutan.
”Hutan mangrove ini adalah kelas terbaik tempat anak-anak belajar mencintai laut dan menjaga alamnya,” ujar Kepala Sekolah Alam Anak Pesisir, Zahit Idris, saat ditemui Lombok Post, Minggu (27/9).
Zahit menegaskan bahwa pemanfaatan mangrove Bagek Kembar sebagai media edukasi terbukti efektif memupuk kepedulian anak pesisir sejak dini. Berkat konsistensi ini, Sekolah Alam Anak Pesisir terus memperkokoh posisinya sebagai pionir dalam memajukan pendidikan pesisir Sekotong.
Geliat pembelajaran di Sekolah Alam Anak Pesisir kini kian optimal berkat masuknya dukungan energi terbarukan. Dukungan berkelanjutan dari Pertamina sejak 2024 hingga kini mendatangkan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan fasilitas sumur bor air bersih.
Hadirnya energi bersih ini melengkapi sarana pendidikan pesisir Sekotong, sehingga operasional perangkat digital edukasi dan penerangan ruang belajar saat sore hari dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
Inovasi edukasi ruang terbuka yang diusung Sekolah Alam Anak Pesisir menuai simpati dan apresiasi luas dari orang tua murid serta masyarakat Sekotong.
Warga menilai keberadaan sekolah alam berhasil meningkatkan literasi anak tanpa mencabut mereka dari identitas dan akar budaya bahari.
Terlebih lagi, pendidikan pesisir Sekotong ini terbukti melahirkan optimisme baru bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.
Kini, keberadaan Sekolah Alam Anak Pesisir berdiri kokoh sebagai simbol inspiratif gerakan pendidikan hijau. Pengelola berharap sinergi dari pemerintah maupun pihak swasta terus mengalir agar fasilitas pendidikan pesisir Sekotong semakin lengkap. (NURUL HIDAYATI - Lombok Barat/r8)
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post