Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gerebek Salon di Cakra, Polisi Temukan Layanan Esek-Esek  

Administrator • Rabu, 6 April 2022 | 01:12 WIB
PROSTITUSI: Pelayan salon NV melakukan reka ulang melayani tamu di Salon NV, Selasa (5/4). (Harli/Lombok Post)
PROSTITUSI: Pelayan salon NV melakukan reka ulang melayani tamu di Salon NV, Selasa (5/4). (Harli/Lombok Post)
MATARAM-Tm Satreskrim Polresta Mataram bersama Polsek Sandubaya menggerebek Salon NV, Senin (4/4) lalu. Salon yang berlokasi di Jalan Selaparang, Cakranegara Timur, itu diduga menjadi tempat prostitusi.

Polisi yang menerima informasi adanya praktik prostitusi langsung merangsek masuk ke dalam salon. Di lantai dua, petugas menemukan pelayan sedang melayani pelanggan. ”Tutup, tutup badanmu,” pinta polisi sambil melemparkan selimut pada pelayan dan pelanggan yang telanjang bulat tersebut.

Pelayan dan pelanggan itu pun segera menutup badannya. Mereka pun diminta mengenakan pakaiannya.

”Belum main, baru pakaikan kondom. Tadi mijit-mijit aja,” timpal pelayan perempuan itu pada petugas.

Polisi yang menangkap basah adanya praktik prostitusi di salon itu langsung melakukan penggeledahan. Mereka menyita handphone para pelayan dan pemilik Salon NV berinisial ENS, 29 tahun.

Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa mengatakan, pada kasus tersebut pihaknya telah mengamankan empat pelayan salon. Masing-masing berinisial PA, 21 tahun; RN, 23 tahun; SK, 21 tahun; dan NI, 25 tahun. “Kita juga amankan pemilik salon berinisial ENS,” kata Kadek Adi.

Dari interogasi, PA yang melayani laki-laki kenalan melalui aplikasi MiChat. Awalnya dia menawarkan jasa spa. ”Harga pijat Rp 250 ribu per jam,” sebutnya.

Tetapi si pelanggan meminta dilayani pijat plus-plus. Jika ingin pijat plus pelayan meminta harga Rp 750 ribu. ”Kita lihat di percakapan itu, pelayan menunjukkan jalan ke salon dan disepakati harga Rp 750 ribu,” beber Kadek Adi.

Saat ini, polisi masih melakukan pengembangan. Kemarin (5/4) mereka melakukan olah TKP di salon tersebut.  “Supaya tergambar jelas proses prostitusi berkedok salon dan spa yang dijalankan pemiliknya,” kata Kadek Adi.

Saat olah TKP, si pelayan berinsial PA yang melayani tamu mengaku dirinya baru membuka baju. ”Kita buka baju tanpa paksaan,” kata PA yang duduk di atas kasur ketika ditanya Kadek Adi.

PA mengaku belum menerima bayaran  sepenuhnya. Dia baru menerima tanda jadi. ”Baru terima Rp 150 ribu,” bebernya.

Uang itu sudah disetorkan ke kasir di salon. Itu sebagai biaya kamar. ”Rencana kan mau mijit, pak,” kata PA.

Pelayanan pijat plus itu terbilang baru. PA menyebut layanan itu baru berjalan dua bulan.

Sementara pemilik salon berinisial ENS mengaku tidak mengetahui adanya layanan pijat plus itu. Yang diketahui hanya pelayanan pijat. ”Saya tidak tahu kalau ada yang melayani seperti itu,” kelit ENS.

Buktinya, kata dia, yang disetorkan ke kasir hanya pembayaran untuk spa sebesar Rp 250 ribu. ”Ada catatannya di kasir,” ujarnya.

Dia menuturkan, PA sebenarnya bukan pelayan salon NV.  Awalnya dia sering melakukan perawatan di salonnya. Lama-lama sering membantu ketika salon ramai. ”Jadi, hanya membantu saja di sini,” terangnya. (arl/r1) Editor : Administrator
#Esek-Esek #Polresta Mataram #Cakranegara #salon