LombokPost-Penyidik Satreskrim Polresta Mataram bergerak cepat mengungkap kasus dugaan penganiyaan yang menyebabkan meninggalnya Nurul Izzati, santriwati Ponpes Al-Aziziyah asal Nusa Tenggara Timur.
Penyidik memeriksa sepuluh saksi, Selasa (2/7).
“Tujuh orang dari tenaga kesehatan (Nakes). Tiga dari masyarakat umum,” jelas Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama.
Khusus untuk tenaga kesehatan, Yogi, sapaannya merinci bahwa lima orang berasal dari RSUD dr R Soedjono Selong, satu dari puskesmas dan satu dari klinik.
Sementara tiga lainnya dari masyarakat umum yang memberikan pendampingan saat Nurul Izzati dirawat di tiga fasilitas kesehatan tersebut.
Yogi menegaskan pihaknya jemput bola dengan turun langsung ke Lombok Timur untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
“Jemput bola ini dilakukan karena ada permintaan dari dokter yang menangani Nurul Izzati selama dirawat di RSUD dr. R Sodejono Selong,” ucapnya.
Kemudian penyidik juga telah dilayangan panggilan terhadap beberapa saksi.
Salah satunya adalah panggilan terhadap empat orang dari pondok pesantren.
“Kalau Ponpes hari Kamis (besok) kami mintai keterangan. Untuk dari pihak Ponpes, ada salah satu santri yang akan didampingi Peksos karena di bawah umur serta ada tiga orang pengurus ponpes,” jelas Yogi.
Selain memeriksa saksi, polisi juga akan mengumpulkan barang bukti hingga mengecek langsung tempat kejadian perkara (TKP).
“Termasuk itu, pasti akan kami kumpulkan barang bukti termasuk CCTV yang diklaim ada merekam aktivitas santri saat dijemput paman dari temannya,” kata dia.
Yogi menjelaskan, korban ini punya kakak tingkat. Informasi didapatkan penyidik, kakak tingkatnya yang menghubungi ibunya untuk menjemput korban karena kondisinya yang sakit.
Setelah itu, ibu kakak tingkatnya itu yang kemudian meminta adiknya untuk menjemput korban.
“Paman rekannya itu salah satu sopir travel. Dia yang menjemputnya,” beber Yogi.
Ditanya terkait hasil autopsi, Yogi mengatakan, hingga kemarin hasil tertulisnya belum diterima dari pihak RS Bhayangkara Mataram.
“Untuk hasil otopsi, nantinya dokter forensik yang akan di BAP,” jelasnya.
Terkait rencana pemeriksaan pihak ponpes, pengurus asrama Ponpes Al-Aziziyah Ustad Amirudin sebelumnya mengaku siap bekerja sama dengan pihak kepolisian.
“Kami akan terbuka dan tidak akan menutupi apapun. Mari kita sama-sama mencari kebenaran dan tidak menyimpulkan sesuatu atas dugaan,” ucapnya. (ton/r8)
Editor : Kimda Farida