Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tim Gabungan Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Ganja Asal Thailand di Gresik

Redaksi Lombok Post • Kamis, 2 Juli 2026 | 23:14 WIB
Tumpukan barang bukti ganja yang dipamerkan dalam konferensi pers di kawasan Pergudangan Prambanan Blizland, Gresik, Kamis (2/7).
Tumpukan barang bukti ganja yang dipamerkan dalam konferensi pers di kawasan Pergudangan Prambanan Blizland, Gresik, Kamis (2/7).

LombokPost — Aparat penegak hukum mematahkan jalur distribusi narkotika transnasional yang menyasar pasar domestik dengan volume barang bukti yang sangat masif. Tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan Polri menggagalkan penyelundupan narkotika jenis ganja kuncup bunga cannabinoid (cannabis buds) asal Thailand.

Operasi penindakan tersebut berhasil diselesaikan secara taktis di salah satu pusat logistik regional di Jawa Timur. Pengungkapan dilakukan di kompleks pergudangan Prambanan Bizland, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Barang bukti yang disita mencapai 3,37 ton.

Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto mengatakan, ganja tersebut merupakan bagian dari jaringan internasional yang baru beroperasi di Indonesia. Berdasarkan draf kronologi masuknya komoditas terlarang ini, pengiriman memanfaatkan celah pada jalur logistik legal. Barang haram itu dikirim dari Thailand melalui jalur perdagangan internasional dan kepabeanan resmi dengan menggunakan kontainer.

"Modusnya disamarkan sebagai barang impor. Cara seperti ini kerap digunakan sindikat narkotika internasional," ujarnya di lokasi pengungkapan.

Manifes Kamuflase Koper dan Strategi Controlled Delivery

Kasus ini terendus setelah otoritas keamanan mendeteksi adanya anomali data pada manifes kargo pelayaran internasional domestik. Kasus itu terungkap setelah petugas menerima informasi intelijen mengenai pengiriman satu kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 29 Juni.

Dalam draf manifes kepabeanan, dokumen pengiriman menyebut muatan berupa koper dan kardus lateks. Namun, hasil pemeriksaan menemukan 1,605 ton ganja siap edar yang disembunyikan di dalam koper.

Guna melacak aktor intelektual serta draf persebaran logistik haram tersebut hingga ke akar-akarnya, petugas menerapkan taktik pembuntutan secara tersamar. Petugas kemudian melakukan controlled delivery untuk mengungkap jaringan di balik pengiriman tersebut.

Langkah pengembangan mengarah pada informasi adanya pengiriman kontainer lain dengan modus serupa ke sejumlah daerah, mulai Jakarta, Banten, Purwakarta, hingga Gresik. Kontainer sengaja beberapa kali berpindah lokasi agar tidak mudah terlacak oleh pemantauan otoritas luar.

Eksekusi pemutusan rantai distribusi tersebut mencapai puncaknya pada awal bulan ini di wilayah pesisir Jawa Timur. Pada 1 Juli, tim gabungan menggeledah kompleks pergudangan Prambanan Bizland di Cerme. Di lokasi itu, petugas kembali menemukan 1,76 ton ganja. Dengan demikian, total ganja yang berhasil disita seberat 3,37 ton.

Dari hasil penindakan maraton ini, belasan orang yang diidentifikasi terlibat dalam rantai pasok tersebut langsung diamankan. "Sebanyak 12 orang telah kami tetapkan sebagai tersangka sesuai perannya masing-masing. Salah satunya merupakan warga negara China," kata alumnus Akpol 1994 tersebut.

Pengendali Utama Berada di Luar Negeri

Berdasarkan draf interogasi awal dan analisis data digital, struktur hierarki operasional sindikat ini dikomandoi oleh figur sentral dari luar wilayah hukum Indonesia. Suyudi mengungkapkan, jaringan itu dikendalikan dua warga negara asing yang berada di luar Indonesia. Mereka adalah warga negara Malaysia berinisial CKF alias L dan warga negara Tiongkok berinisial ZL alias J.

Penyidik memastikan bahwa draf penelusuran perkara ini masih akan terus diperluas guna memitigasi sisa jaringan pemasaran yang kemungkinan belum terdeteksi. "Kami masih mendalami keterlibatan pihak lain, termasuk kemungkinan adanya pengiriman lain dengan modus serupa," tegas mantan Kapolda Banten tersebut.

Sinergi Intelijen dan Pengawasan Pabean

Sementara itu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn) Djaka Budhi Utama menjelaskan, strategi controlled delivery dilakukan untuk menelusuri pihak yang menerima barang. Otoritas kepabeanan menegaskan pentingnya draf koordinasi kilat begitu indikasi awal komoditas sekunder berbahaya terdeteksi di area kepabeanan pelabuhan. Dari temuan komoditas mencurigakan, Bea Cukai langsung berkoordinasi dengan BNN.

"Kalau hanya berhenti di pelabuhan, kami tidak akan bisa mengungkap jaringan di belakangnya," ujarnya.

Djaka menegaskan, Bea Cukai berkomitmen memperkuat pengawasan terhadap masuknya barang terlarang ke Indonesia. Menurut dia, penguatan kerja sama intelijen, pertukaran data kepabeanan, dan sinergi antarlembaga menjadi kunci mendeteksi penyimpangan dalam aktivitas perdagangan internasional.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#BNN #Ganja #Narkoba