LombokPost – Dahulu identik dengan orang dewasa, kini diabetes tipe 2 semakin sering ditemukan pada anak-anak.
Sebuah ulasan dari dr. Erta Priadi Wirawijaya menyoroti betapa pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap tanda dan gejala dini diabetes pada buah hati.
Dr. Erta bahkan mengungkapkan pengalamannya menangani kasus anak 10 tahun dengan gejala awal resistensi insulin, yang merupakan peringatan dini risiko diabetes tipe 2.
Dalam ulasannya, dr. Erta menceritakan seorang ibu membawa anaknya yang berusia 10 tahun dengan keluhan perut buncit dan muncul garis hitam di leher.
Setelah diperiksa, dr. Erta menemukan adanya acanthosis nigricans, lipatan hitam keabu-abuan di leher yang bukan daki, melainkan tanda klasik resistensi insulin.
"Itu bukan daki, tapi acanthosis nigricans, tanda klasik resistensi insulin—peringatan dini risiko diabetes tipe 2," tegas dr. Erta.
Peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada anak ini disebut dr. Erta sebagai dampak langsung dari gaya hidup modern yang tidak sehat.
Konsumsi makanan tinggi gula, minuman boba yang berlebihan, durasi screen time berjam-jam, dan minimnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama.
Kondisi ini mengakibatkan penumpukan lemak perut, gangguan hormon, dan kerja pankreas yang berlebihan.
Gejala diabetes pada anak seringkali samar dan sulit dikenali, seperti mudah haus, sering buang air kecil, perubahan berat badan drastis (naik atau turun), mudah lelah, dan luka yang sulit sembuh.
Bahkan, ada kasus yang baru terdeteksi saat anak sudah dalam kondisi gawat darurat akibat ketoasidosis diabetik—kondisi parah karena kekurangan insulin ekstrem.
"Dan sedihnya, sebagian besar bisa dicegah. Kalau orang tua lebih peka. Kalau kita sadari bahwa pipi tembam bukan selalu tanda sehat," ujar dr. Erta.
Melihat kondisi ini, dr. Erta bersama orang tua pasien menyusun rencana perubahan gaya hidup.
Jadwal makan sehat bersama, mengurangi ultra-processed food.
Mengganti jajanan manis dengan buah-buahan.
Mengajak anak olahraga bersama.
Mengurangi screen time dan mendorong anak bermain di luar.
Dr. Erta menegaskan bahwa anak-anak tidak bisa membeli makanan atau minuman tidak sehat sendiri; mereka mencontoh kebiasaan orang tua.
Oleh karena itu, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sehat anak sejak dini.
"Kalau kamu orang tua dan mulai lihat tanda-tanda: anak makin buncit, garis gelap di leher, sering lemas atau haus berlebihan… jangan abaikan. Konsultasi ke dokter. Lebih baik waspada sekarang, daripada menyesal nanti," pesan dr. Erta.
Diabetes pada anak adalah ancaman nyata, namun dapat dicegah melalui perhatian, edukasi, dan penerapan kebiasaan sehat sejak dini.
Dr. Erta mengajak semua pihak untuk turut menyebarkan informasi ini. "Kita bisa jadi penyelamat satu masa depan. Karena anak sehat, adalah investasi terbaik untuk bangsa," pungkas dr. Erta.
Apakah Anda melihat tanda-tanda serupa pada anak di sekitar Anda?
Editor : Siti Aeny Maryam