“Elektrolit adalah zat mineral seperti natrium, kalsium, kalium, dan magnesium yang larut di dalam darah dan cairan tubuh. Mereka menjaga keseimbangan cairan, mengatur kontraksi otot, termasuk otot jantung, serta impuls listrik di tubuh,” jelas dr. Erta.
Ia mengibaratkan, jika tubuh seperti sistem kelistrikan rumah, elektrolit adalah kabel yang memastikan arus listrik tetap stabil. Jika salah satu kabel putus, listrik bisa korslet.
Saat berolahraga, terutama di cuaca panas, tubuh mengeluarkan keringat untuk menurunkan suhu. Bersama keringat itu, elektrolit juga ikut keluar. Jika seseorang hanya mengganti cairan dengan air putih tanpa elektrolit, darah bisa menjadi lebih encer dan kadar natrium turun drastis. Kondisi ini disebut hiponatremia.
“Hiponatremia berat bisa menyebabkan otak bengkak, kejang, hingga henti napas. Tapi kasus ini jarang terjadi hanya karena kurang minum minuman elektrolit. Biasanya, itu kombinasi antara olahraga ekstrem, durasi panjang, minum air terlalu banyak tanpa garam, dan kelelahan berat,” ujarnya.
Ia mencontohkan kasus di Amerika, di mana seorang pelari wanita meninggal bukan karena dehidrasi, tetapi karena keracunan air. “Tubuhnya over hydrated, kadar natrium turun drastis sampai otak bengkak. Ironisnya, dia meninggal bukan karena kurang minum, tapi karena salah minum,” tambahnya.
Gangguan Irama Jantung
Selain hiponatremia, kekurangan elektrolit tertentu seperti kalium dan magnesium juga bisa menyebabkan gangguan listrik jantung atau aritmia.
“Kalau aritmianya ringan, terasa seperti jantung berdebar aneh. Tapi kalau berat bisa berubah jadi ventricular fibrillation, jantung hanya bergetar tanpa memompa darah. Dalam hitungan detik, orang bisa kolaps,” kata dr. Erta.
Kondisi ini lebih berisiko bagi orang yang punya penyakit jantung tersembunyi, seperti penyempitan koroner ringan atau pembesaran jantung akibat latihan ekstrem bertahun-tahun. Ketika tubuh dehidrasi dan elektrolit kacau, risiko kematian mendadak meningkat.
“Makanya pelari veteran sering diwajibkan cek elektrolit sebelum dan sesudah lomba. Karena di titik tertentu, yang dipertaruhkan bukan podium, tapi nyawa,” tegasnya.
Sayangnya, tubuh sering kali tidak memberi peringatan yang jelas. Gejala awal seperti pusing, mual, kram otot, atau detak jantung tidak nyaman sering dianggap hal sepele. “Padahal itu tanda elektrolit mulai kacau. Kalau tetap dipaksa lari, jantung bisa berhenti mendadak,” jelasnya.
Kapan Tubuh Butuh Minuman Elektrolit?
Menurut dr. Erta, tidak semua aktivitas butuh minuman elektrolit komersial. “Kalau olahraganya cuma 30 menit atau ringan seperti jalan pagi atau yoga, air putih cukup. Elektrolit dibutuhkan jika olahraga lebih dari 60–90 menit, terutama di cuaca panas,” katanya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan minuman elektrolit sebagai gaya hidup. “Kadang yang dibutuhkan bukan elektrolit, tapi istirahat dan tidur cukup,” ujarnya sambil tersenyum.
Sumber elektrolit alami juga banyak ditemukan di makanan. “Pisang kaya kalium, air kelapa mengandung natrium dan magnesium, susu punya kalsium tinggi. Jadi strategi terbaik bukan panik tiap kali haus, tapi menjaga asupan makan agar seimbang sebelum dan setelah olahraga,” saran dr. Erta.
Ia menambahkan, pelari profesional bahkan rutin memeriksa kadar elektrolit dalam darah sebelum mengikuti lomba besar. “Karena sekali jantung berhenti, tidak ada tombol restart,” pungkasnya. (*)
Editor : Marthadi