Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ajak Masyarakat Waspadai Penyakit Paru Sejak Dini, PDPI NTB Peringati Hari PPOK Sedunia 2025

Nurul Hidayati • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:18 WIB

WASPADA SAKIT PARU SEJAK DINI: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang NTB bersama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram serta RSUD Provinsi NTB gelar peringatan PPOK.
WASPADA SAKIT PARU SEJAK DINI: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang NTB bersama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram serta RSUD Provinsi NTB gelar peringatan PPOK.
 

LombokPost — Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang NTB bersama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram serta RSUD Provinsi NTB menggelar peringatan Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Sedunia 2025 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Minggu (30/11).

Mengusung tema “Sesak Napas, Pikirkan PPOK”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit paru kronik.

Acara yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh 132 peserta mulai dari masyarakat sekitar, kader puskesmas, hingga mahasiswa.

Kegiatan diawali dengan senam asma bersama, dilanjutkan dengan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan fungsi paru Arus Puncak Ekspirasi (APE), hingga donor darah.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan edukasi dan berkesempatan memeriksakan fungsi paru, tetapi juga mendapatkan doorprize untuk berbagai kategori.

Ketua PDPI Cabang NTB, dr. H. Slamet TJahyono, Sp.P(K), FISR, menjelaskan PPOK masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering terlambat dikenali, karena sifatnya yang progresif dan menahun, dan berhenti merokok merupakan kunci utama dalam pencegahan PPOK. Pada sesi penyuluhan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai PPOK.

PPOK merupakan kondisi ketika saluran napas dan jaringan paru mengalami kerusakan sehingga aliran udara menjadi terbatas.

Kondisi ini disebabkan oleh peradangan kronis saluran napas akibat paparan asap rokok, polusi udara maupun bahan iritan lainnya. Gejalanya meliputi sesak napas, batuk kronis, produksi dahak berlebihan dan mudah lelah. Pada sebagian penderita, kondisi ini dapat memburuk secara tiba-tiba, yang dikenal sebagai eksaserbasi, sehingga memerlukan penanganan medis segera.

”Penegasan diagnosis penyakit ini dilakukan dengan wawancara riwayat paparan, pemeriksaan fisik, foto rontgen dada, dan tes spirometri yang merupakan pemeriksaan standar emas untuk menegakkan PPOK,” jelasnya.

Meskipun hingga kini PPOK belum dapat disembuhkan, pengobatan tersedia untuk mengendalikan gejala dan memperlambat progres penyakit, meliputi penggunaan obat hirup (inhaler), program rehabilitasi paru, vaksinasi influenza dan pneumonia. Serta penghindaran faktor risiko seperti berhenti merokok. Pada kondisi tertentu, pasien mungkin membutuhkan terapi oksigen jangka panjang.

Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pasien PPOK tetap dapat menjalani hidup lebih aktif dan berkualitas. Edukasi mengenai bahaya rokok dan pentingnya lingkungan udara yang bersih menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit ini semakin meluas.

Melalui kegiatan ini, PDPI NTB kembali mengingatkan pentingnya upaya pencegahan seperti berhenti merokok, menghindari lingkungan berasap, rutin beraktivitas fisik, menjaga pola hidup sehat, dan melakukan pemeriksaan paru secara berkala, terutama bagi perokok atau individu yang sering terpapar polusi. Antusiasme peserta terlihat dari ramainya peserta senam hingga sesi diskusi yang berjalan interaktif bersama dokter spesialis paru yang hadir.

Peringatan Hari PPOK Sedunia di NTB tahun ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan paru serta mendorong perubahan perilaku menuju lingkungan yang lebih sehat dan bebas asap rokok. Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam menekan kasus PPOK di masa mendatang.

Penulis dr. H. Slamet Tjahjono, Sp.P (K) FISR; dr. Prima Belia Fathana, Sp. P (K); dr. Moulid Hidayat, Sp.P(K)-Onk.,Ph.D; dr. Komang Sri Rahayu Widiasari, Sp.P (K).,FISR; dr. Rina Lestari, Sp.P (K).,FISR; dr. Indana Eva Ajmala, Sp.P (K); dr. Kana Wulung A.I. Prinasetyo, Sp.P.,FAPSR.

Editor : Siti Aeny Maryam
#penyakit #ppok #NTB #penyuluhan #Paru