LombokPost — Unit Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Provinsi NTB menggelar family gathering dalam rangka World Prematurity Day 2025, Sabtu (30/11), di Yeni’s Cafe, Tanjung.
Acara yang mengusung tema “Berikan bayi prematur awal yang kuat untuk masa depan yang lebih cerah!” ini menghadirkan para alumni NICU beserta para orang tua yang pernah mendampingi buah hati mereka melalui masa-masa kritis di ruang perawatan intensif.
Peringatan Hari Prematur Sedunia yang dirayakan setiap 17 November ini dipusatkan oleh komunitas alumni NICU NTB dalam bentuk pertemuan keluarga.
Menariknya, tahun ini kegiatan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara (KLU),wilayah yang jaraknya cukup jauh dari Kota Mataram.
Namun hal itu tak menyurutkan antusiasme para keluarga. Bahkan, data menunjukkan KLU memiliki persentase kelahiran prematur tertinggi di NTB, mencapai 8 persen, sehingga kehadiran mereka justru terasa sangat relevan dan bermakna.
Kegiatan tersebut menjadi ajang reuni hangat antara keluarga, dokter, dan tenaga kesehatan yang pernah terlibat dalam perjalanan panjang para bayi prematur.
Dalam sambutannya, dr. Ketut Adi, Sp.A (K) Neo, menyampaikan bahwa Hari Prematur Sedunia bukan hanya peringatan, tetapi juga refleksi atas perjuangan luar biasa para pejuang kecil.
“Setiap anak punya cerita unik. Ada yang lahir hanya beberapa ratus gram, ada yang tinggal berbulan-bulan di NICU. Namun satu hal yang sama: mereka semua adalah pejuang, dan kita adalah saksi kekuatan mereka,” ujarnya.
Acara ini diisi dengan sesi berbagi pengalaman tumbuh kembang anak, termasuk pentingnya mengejar nutrisi hingga usia dua tahun sebagai fase emas perkembangan.
Para orang tua saling bertukar cerita dari hari pertama memasuki NICU, proses pendampingan, hingga kebahagiaan melihat anak mereka kini tumbuh sehat.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antar keluarga alumni NICU. Para peserta mengaku pertemuan seperti ini penting sebagai bentuk dukungan psikologis bagi keluarga yang masih menjalani perjalanan perawatan bayi prematur.
“Kami merasa tidak sendiri. Ada banyak orang tua lain yang melewati tahap yang sama, dan kami bisa saling menguatkan,” ujar Nia salah satu orang tua peserta.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada dokter, perawat, dan seluruh tenaga kesehatan NICU RSUD Provinsi NTB yang telah merawat anak-anak mereka dengan ketulusan dan kesabaran.
Acara berlangsung penuh kehangatan, syukur, serta rasa bangga melihat para pejuang kecil yang kini tumbuh aktif dan ceria. Family gathering ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin sebagai upaya memperkuat komunitas keluarga bayi prematur di NTB.
“Untuk para pejuang kecil: kalian luar biasa. Untuk para orang tua: kalian lebih kuat dari yang kalian kira. Mari kita terus menyebarkan harapan dan dukungan bagi keluarga lain yang sedang berjuang,” tutup dr. Ketut Adi.
Editor : Pujo Nugroho