LombokPost – Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menggelar agenda tahunan Lombok Cardiovascular Update (LCU) ke-9.
Mengusung tema unik ala bajak laut, "Pirates of the Caribbean: Navigating of the Cardiovascular Excellence", ajang ini menjadi wadah pembaruan keilmuan demi meningkatkan kualitas pelayanan penyakit jantung di NTB.
Ketua PERKI NTB dr. Bayu Setia, M.Biomed, Sp.JP, FIHA, FAsCC menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut mencerminkan filosofi navigasi medis. Ibarat mengarungi lautan, penanganan penyakit kardiovaskular membutuhkan “kompas” atau ilmu pengetahuan yang terus diperbarui.
“Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat. Kita harus terus memperbarui diri agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa maksimal,” ujar dr. Bayu di sela-sela kegiatan kepada Lombok Post.
Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab kematian (mortalitas) nomor satu dan diprediksi terus meningkat hingga tahun 2050.
Di NTB, faktor risiko utama masih didominasi oleh gaya hidup yang kurang sehat, seperti kebiasaan merokok, kolesterol tinggi (dislipidemia), serta hipertensi dan kencing manis (diabetes) yang belum terkontrol dengan baik.
Untuk itu, LCU ke-9 memfokuskan empat pilar penanganan. Mulai dari pencegahan (preventif), promosi hidup sehat, penanganan kegawatdaruratan yang cepat dan tepat, serta peningkatan kualitas hidup pasien pascaserangan jantung.
Rangkaian LCU ke-9 berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan workshop yang diikuti oleh 80 peserta dari kalangan dokter umum dan perawat.
Workshop ini digelar untuk mendukung program pemerintah terkait penanganan awal serangan jantung melalui tindakan fibrinolitik di tingkat puskesmas.
melalui pelatihan ini, dokter umum dan perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer disiapkan agar mampu membuka sumbatan pembuluh darah pasien serangan jantung secara cepat sebelum dirujuk. Rencananya, program uji coba ini mulai diterapkan di NTB pada tahun depan.
“Harapan kita, penanganan serangan jantung tidak boleh lama. Saat ada pasien di puskesmas, nakes sudah bisa melakukan tindakan awal,” tegasnya.
Sementara pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan simposium ilmiah yang diikuti sekitar 300 peserta, meluputi dokter spesialis, dokter umum, hingga perawat.
Baca Juga: Nanik S. Deyang Mundur dari Kepala BGN karena Sakit Jantung, Prabowo Siapkan Peran Baru
Selain simposium, LCU ke-9 juga menyajikan lomba penanganan penyakit jantung antar-rumah sakit se-NTB serta lomba poster karya ilmiah yang diikuti sekitar 70 peserta dari kalangan mahasiswa dan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, dr. Bayu memberikan catatan khusus terkait penyebaran dokter spesialis jantung di NTB. Saat ini, sebanyak 23 dokter spesialis jantung yang ada belum tersebar merata di seluruh wilayah.
Beberapa daerah seperti Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Dompu masih mengalami kekosongan, meski saat ini sudah ada tenaga medis yang sedang menempuh pendidikan spesialis.
Terkait kondisi tersebut, PERKI NTB mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk tidak hanya memperhatikan insentif, tetapi juga kesiapan sarana dan prasarana penunjang di rumah sakit daerah.
“Kalau fasilitas tidak ada, dokter spesialis tidak akan bisa bekerja maksimal. Begitu juga sebaliknya, jika fasilitas ada tetapi kesejahteraan kurang, tentu tidak optimal. Harus sejalan antara kesiapan sarana, ketersediaan obat, dan keberadaan SDM,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post