LombokPost-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan potensi gangguan pada sel paru-paru dan produksi insulin akibat paparan aerosol rokok elektrik atau vape. Hasil penelitian awal terhadap 13 sampel cairan vape menunjukkan adanya efek toksik pada sel paru dan pankreas yang diuji di laboratorium.
Temuan itu sebelumnya disampaikan Kepala BRIN Arif Satria seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, akhir September lalu.
Arif menjelaskan, penelitian BRIN menemukan dampak penggunaan vape yang berkaitan dengan paru-paru, pankreas, dan produksi insulin. Hasil pengujian menunjukkan sekitar 92 persen sampel memiliki efek terhadap sel paru, sedangkan seluruh sampel memperlihatkan pengaruh pada indikator yang berkaitan dengan pengaturan gula darah.
Baca Juga: Cairan Vape Bisa Mengandung Narkotika, Ini Jenis Zat yang Ditemukan BNN
Penjelasan lebih terperinci mengenai penelitian itu disampaikan Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti kepada BBC News Indonesia dalam pemberitaan pada 9 Oktober 2026.
Menurut Indi, penelitian dilakukan menggunakan 13 sampel cairan vape dari berbagai merek dan rasa. Sampel kemudian diuji untuk mengetahui pengaruh aerosol hasil pemanasan cairan terhadap sel paru-paru dan pankreas.
Pengujian menggunakan metode in vitro, yakni penelitian pada kultur sel di laboratorium, bukan pengamatan langsung terhadap kondisi kesehatan pengguna vape.
Pada penelitian terhadap sel paru, BRIN menggunakan model sel A549. Hasilnya menunjukkan 92 persen sampel memberikan efek toksik yang menurunkan kemampuan sel untuk bertahan hidup.
Selain mengukur efek toksik, peneliti mengamati perubahan kadar TNF-α, yakni salah satu molekul yang berkaitan dengan respons peradangan.
Sebanyak 78 persen sampel memperlihatkan peningkatan TNF-α. Temuan ini menunjukkan potensi respons inflamasi akibat paparan aerosol vape pada sel yang diuji.
BRIN kemudian meneliti pengaruh aerosol vape terhadap sel pankreas menggunakan model sel beta pankreas tikus MIN6. Sel ini digunakan untuk mempelajari proses produksi dan pelepasan insulin.
Insulin merupakan hormon yang berperan membantu pengaturan kadar gula darah. Gangguan produksi maupun respons tubuh terhadap insulin dapat memengaruhi keseimbangan gula darah.
Hasil pengujian menunjukkan 69 persen sampel menimbulkan efek toksik pada sel pankreas yang digunakan dalam penelitian. Efek itu disertai penurunan produksi insulin sekitar 20 persen.
Selain itu, seluruh sampel yang diperiksa menunjukkan penekanan terhadap sekresi atau pelepasan insulin dalam model pengujian laboratorium.
Meski demikian, hasil penelitian ini belum membuktikan bahwa penggunaan vape secara langsung menyebabkan diabetes pada manusia.
Baca Juga: Kapolda dan Kapolres Bergerak! Anggota Polisi yang Nekat Pakai Vape Siap-Siap Kena Sanksi Tegas
Indi menjelaskan, perubahan sekresi insulin dalam pengujian sel merupakan petunjuk awal mengenai potensi gangguan pengaturan gula darah. Untuk mengetahui dampaknya pada manusia, diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan yang lebih luas.
Diabetes sendiri dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi genetik, pola makan, obesitas, aktivitas fisik, resistensi insulin, dan fungsi sel pankreas.
Penelitian BRIN juga memiliki keterbatasan karena baru menggunakan 13 sampel cairan vape dan dilakukan pada kultur sel. Hasil pengujian tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa 92 persen pengguna vape mengalami penyakit paru atau seluruh pengguna akan menderita diabetes.
Indi turut menjelaskan bahwa cairan vape umumnya mengandung propilen glikol dan gliserin sebagai pelarut, serta dapat mengandung nikotin dan bahan perasa.
Ketika cairan dipanaskan, kandungannya dapat mengalami perubahan kimia dan menghasilkan senyawa lain dalam bentuk aerosol. Karena itu, pengujian risiko kesehatan tidak cukup dilakukan hanya dengan memeriksa komposisi cairan sebelum dipanaskan.
BRIN menilai penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami hubungan antara kandungan aerosol, tingkat paparan, lama penggunaan, dan respons biologis tubuh.
Hasil penelitian awal ini menjadi salah satu dasar ilmiah untuk memahami potensi risiko rokok elektrik, terutama terhadap sistem pernapasan dan pengaturan gula darah. Namun, penilaian dampak kesehatan jangka panjang pada manusia tetap membutuhkan bukti penelitian tambahan.
Editor : Akbar Sirinawa