LombokPost - Di setiap sudut jalanan Indonesia, terutama saat senja mulai merayap, pemandangan familiar menyapa: spanduk sederhana namun mencolok bertuliskan "Pecel Lele".
Ikan lele goreng renyah dengan sambal pedas dan lalapan segar ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Nusantara.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa hampir semua spanduk pecel lele memiliki desain yang begitu serupa? Mengapa pula disebut "pecel" padahal hidangannya tak bersaus kacang seperti pecel sayur?
Baca Juga: Bologna Juara Coppa Italia! Penantian 27 Tahun Tuntas! Milan Dibikin Gigit Jari
Kisah menarik ini bermula di Jakarta pada era 1970-an. Kala itu, pedagang Soto Lamongan berinovasi dengan menambahkan menu lele goreng sebagai pendamping soto yang sudah populer.
Inilah cikal bakal hidangan yang kini kita kenal sebagai pecel lele. Nama "pecel" sendiri menyimpan jejak sejarah dari tanah Jawa Timur.
Dalam dialek setempat, "pecel" berarti mememarkan atau menumbuk. Istilah ini merujuk pada proses awal pengolahan ikan lele sebelum digoreng, sebuah fakta unik yang mungkin belum banyak diketahui penikmat kuliner Indonesia.
Keterbatasan teknologi di masa itu memaksa para penjual pecel lele Lamongan untuk membuat spanduk promosi mereka secara manual.
Lahirlah desain-desain sederhana namun efektif, yang mengutamakan visibilitas di malam hari dan ketahanan terhadap cuaca.
Kain tebal dan cat anti pudar menjadi pilihan utama. Teknik melukis tangan dianggap lebih unggul dari sablon dalam menghasilkan warna yang kaya dan awet, memastikan spanduk warung pecel lele tetap menarik perhatian calon pelanggan.
Desain-desain awal inilah yang kemudian menjadi semacam "standar" tak tertulis bagi para penjual pecel lele di seluruh penjuru negeri.
Palet warna cerah, ilustrasi lele yang khas, dan tipografi sederhana namun mudah dibaca menjadi ciriSpanduk pecel lele bukan hanya sekadar penanda warung makan.
Ia telah bertransformasi menjadi ikon budaya populer di Indonesia. Bahkan, di sebuah desa di Lamongan, pembuatan spanduk pecel lele secara manual masih menjadi keahlian turun-temurun.
Kreativitas desain ini pun merambah dunia fashion ketika desainer Sulaiman Said melalui label streetwear Kamengski mengangkat elemen visual spanduk pecel lele ke dalam koleksi pakaiannya.
Langkah ini membuktikan bahwa kuliner khas Indonesia pun dapat menginspirasi tren gaya hidup.
Dari sekadar penanda warung pinggir jalan, spanduk pecel lele telah menjelma menjadi simbol ketangguhan dan adaptasi para pengusaha kecil, serta bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner
Nusantara. Kisah di baliknya, jauh lebih menarik dan unik dari sekadar informasi di pinggir jalan, sebuah narasi visual yang patut untuk terus dilestarikan.
Jadi, lain kali saat Anda melihat spanduk pecel lele yang familiar di Lombok, Kota Mataram atau di mana pun, ingatlah perjalanan panjang dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Sebuah ikon kuliner yang tak lekang oleh waktu. (***)
Editor : Alfian Yusni