Aroma gurih ketan dan santan menyeruak, memicu selera siapa pun yang melintas di Dusun Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.
Warga setempat kembali menghidupkan tradisi Bakar Timbung Massal, sebuah ritual sakral sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil bumi.
Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memasak biasa. Bakar Timbung merupakan rangkaian pembuka dari ritual besar bertajuk Ruah Gubuk Turun Ngaro.
Prosesi ini rutin digelar setiap tahun, tepat setelah gaung Perang Topat di Kemaliq Lingsar usai.
Kepala Desa Batu Kumbung Wirya Adi Saputra menjelaskan tradisi ini adalah warisan adiluhung yang telah mengakar sejak zaman nenek moyang.
”Ini adalah rangkaian puncak tasyakuran masyarakat kami. Timbung menjadi simbol kebersamaan sebelum kami masuk ke acara inti doa bersama,” terang Wirya.
Timbung dibuat dari racikan ketan, santan, dan garam yang dimasukkan ke dalam bilah bambu berlapis daun pisang.
Setelah matang, kuliner tradisional ini disandingkan dengan tape ketan, abon ikan, hingga parutan kelapa campur gula aren.
Meski sejarah pasti penggunaan bambu sebagai media masak belum terarsip secara tertulis, Wirya meyakini hal itu berkaitan dengan kemudahan akses bahan baku di masa lampau.
Editor : Kimda Farida