LombokPost-Deru mesin di lintasan Sirkuit Internasional Mandalika boleh saja menjadi magnet utama dunia saat ini.
Namun, jauh sebelum aspal sirkuit itu mengkilap, kehidupan di kawasan Kuta Mandalika telah memiliki denyutnya sendiri.
Di salah satu sudut strategis kawasan ini, berdiri MILK Café, sebuah ruang singgah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem sport tourism Lombok.
Sudah lebih dari satu dekade MILK Café melayani pengunjung.
Bagi sang pemilik, Therese, kafe ini bukan sekadar bisnis kuliner. Ia menyebutnya sebagai “kampung pertama” sebuah saksi bisu transformasi Kuta dari desa pesisir yang tenang menjadi destinasi internasional yang sibuk.
“Kami sudah beroperasi sejak 2015. Banyak hal yang berubah sejak saat itu, seiring dengan berkembangnya Lombok,” kenang Therese saat berbincang mengenai perjalanan usahanya, Jumat (6/2).
Lokasinya yang hanya berjarak lima menit dari sirkuit membuat MILK Café menjadi titik temu favorit.
Bukan hanya bagi wisatawan, tetapi juga kru balap, pekerja event, hingga masyarakat lokal.
Kedekatan geografis ini menjadikannya "pit stop" paling strategis, baik untuk memulai hari sebelum ke sirkuit maupun melepas lelah setelah balapan usai.
Dengan desain area dine-in yang nyaman dan menu brunch yang beragam, MILK Café berhasil menjaga konsistensi selama sepuluh tahun terakhir.
Di tengah hiruk-pikuk event kelas dunia, kafe ini tetap menawarkan sisi lain Mandalika yaitu tempat yang santai, personal, dan terasa seperti pulang ke rumah.
Bagi para penikmat sport tourism, singgah di MILK Café seolah menjadi ritual wajib untuk melengkapi pengalaman mereka di Mandalika.
Sebuah bukti bahwa di balik megahnya proyek strategis nasional, kehangatan lokal tetap menjadi jiwa yang menghidupkan kawasan tersebut.
Editor : Jelo Sangaji