Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Duka Orang Tua Pratu Dedi, Prajurit TNI asal Lombok yang Gugur di Papua

Administrator • Senin, 25 Januari 2021 | 18:07 WIB
DUKA MENDALAM: Sarmiati, ibu Pratu Dedi Hamdani tidak bisa menahan tangis mendapati kabar anaknya yang gugur dalam baku tembak antara prajurit TNI dengan KKB di Papua, Sabtu (22/1). (dedi/lombok post)
DUKA MENDALAM: Sarmiati, ibu Pratu Dedi Hamdani tidak bisa menahan tangis mendapati kabar anaknya yang gugur dalam baku tembak antara prajurit TNI dengan KKB di Papua, Sabtu (22/1). (dedi/lombok post)
Lima hari sebelum anaknya gugur di medan pertempuran, Muhdin bermimpi buah kelapa di rumahnya jatuh. Bagi dia, mimpi itu adalah sebuah pertanda. Bakal ada kabar duka bagi keluarga.

DEDI SHOPAN SHOPIAN, Lombok Tengah

 

Benar adanya, kematian memang hanya milik Yang Maha Kuasa.
“Awalnya, saya mengira salah satu keluarga kami yang sekarang dirawat di RSUD Praya,” ujar Muhdin pada Lombok Post.

Tapi, takdir memang memiliki jalan yang lain. Kematian menjemput buah hatinya, Pratu Dedi Hamdani, yang sedang menjalani tugas negara di Intan Jaya, Papua.

Tidak ada firasat apa-apa. Beberapa hari sebelumnya, Muhdin berkomunikasi seperti biasa melalui sambungan telepon dengan sang anak. Pria yang lupa tahun kelahirannya ini mengaku, selama ini memang hanya anaknya saja yang bisa menghubungi keluarga di Lombok melalui telepon.

Hal tersebut lantaran di tempat tugasnya, Pratu Dedi tidak ada sinyal telekomunikasi. Sinyal telekomunikasi baru akan didapat manakala Pratu Dedi naik gunung atau di daerah ketinggian.

Sebelum kabar duka datang, Muhdin dan keluarganya tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dia bertani dan juga memelihara ternak. Pada Jumat sore (22/1), dia menyabit rumput tidak jauh dari rumahnya di Dusun Bagek Dewa Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah.

Tiba-tiba keluarga datang. Dirinya diminta pulang. Di rumah pun keluarga dekat sudah berkumpul. Sarmiati, ibu Pratu Dedi, tinggal di rumah keluarga yang lain. Sebab, Muhdin dan Sarmiati, sudah enam tahun bercerai. “Saya tanya kepada mereka, ada apa ini,” cerita Muhdin.

Tidak lama kemudian telepon miliknya berdering. Di ujung telepon, Komandan Batalyon Raider 400/Benteng Raider Kodam IV/Diponogoro menyampaikan kabar duka, bahwa anaknya meninggal melawan Kelompok Kriminal Bersenjata. Muhdin merasa seluruh sendi-sendi tubuhnya lemas. Dia tak bisa berkata-kata. Air matanya tumpah. “Yang membuat saya sedih dan tidak bisa saya lupakan, anak saya itu rencana mau pulang pertengahan tahun ini,” ujar Muhdin sembari mengusap air mata.

Photo
Photo
UPACARA MILITER: Prosesi pemakaman Pratu Dedi Hamdani yang diawali dengan penyerahan nejazah dari keluarga pada negara, Minggu (24/1). Pemakaman dilakukan secara militer di Dusun Bagik Dewa, Desa Pelambik, Praya Barat Daya, Lombok Tengah. (dedi/lombok post)

Banyak rencana yang sudah dibuat. Antara lain Pratu Dedi Hamdani ingin melepas masa lajangnya. Muhdin pun menyetujui. Calon menantunya masih memiliki hubungan keluarga. Tapi kini, rencana tersebut tinggal rencana.

Tes Empat Kali

Jalan menjadi prajurit TNI bagi Pratu Dedi tidaklah mudah. Dia harus mengikuti tes sampai empat kali. Dari tes pertama gagal, kemudian mencoba tes polisi gagal juga. Lagi-lagi tes ketiga masuk tentara gagal. Terakhir ikut tes tahun 2017 dan dinyatakan lulus.

“Setiap kali kegagalannya, saya terus memberikan semangat,” kata Muhdin yang mengenakan pakaian batik putih dengan sarung kotak warna biru.

Begitu lulus, anaknya ditempatkan di Solo, Jawa Tengah. Pernah juga ditugaskan di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Sedangkan di Intan Jaya, Papua, baru lima bulan berjalan.

Dia mengatakan, selama menjadi anggota TNI, anaknya tetap mengirim uang. “Setiap bulannya terkadang Rp 500 ribu. Bahkan lebih,” katanya.

Uang kiriman tersebut digunakan untuk membiayai adiknya yang masih menempuh pendidikan MTs swasta di Desa Pelambik. Namanya Haikal Kusuma Jaya. Muhdin menginginkan adiknya menjadi seorang ustad. Dia ingin mengirim adiknya menuntut ilmu di Mesir.

“Saya sudah merelakan dan mengikhlaskan kepergian anak saya,” katanya.

Hal yang sama dirasakan Sarmiati, ibu dari Pratu Dedi. Dia sendiri masih menyimpan penyesalan. Karena sepekan sebelum anaknya gugur, tepatnya Jumat (15/1) lalu, dia dihubungi melalui telepon. “Waktu itu saya Salat Magrib di musala, HP di rumah,” cerita Sarmiati, yang ditemui Lombok Post secara terpisah.

Dia menceritakan, sampai tiga kali anaknya menghubungi. Namun, begitu dihubungi kembali nomor anaknya tidak aktif lagi. “Saya kemudian menunggu sampai larut malam, mana tahu anak saya menghubungi lagi,” ujar Sarmiati didampingi anaknya yang kedua Haikal Kusuma Jaya dan keluarga terdekat.

Perempuan kelahiran 31 Desember 1974 itu tidak bisa menahan air mata. Dia tidak menyangka anaknya gugur. “Saya menyesal, kenapa saya tidak bawa HP waktu itu,” katanya.

Belakangan, batinnya kian pilu. Sebab, di akun media sosial, anaknya mengunggah status. “Ku titip rindu untuk ibuku tersayang.” Begitu status terakhir Pratu Dedi.

Dia bercerita, setiap kali mendapat kesempatan pulang ke kampung halaman dari medan tugas, anaknya selalu minta dimasakkan lauk pauk kesukaannya. Bahkan, acap meminta dikirimkan melalui pos. Pratu Dedi sangat sedang dengan olahan biji kecipir. Apalagi, lauk jenis ini memang bisa bertahan lama.

Soal rencana pernikahan pun dia menuturkan anaknya sudah merencanakan matang. Mahar pun telah disiapkannya berupa emas. Sementara tanah seluas dua are untuk tempat membangun rumah pun sudah dibeli. Lokasinya cukup strategis dekat jalan raya Desa Pelambik. “Impian anak saya belum terwujud. Allah SWT lebih menyayanginya,” kata Sarmiati. (*/r6) Editor : Administrator
#Lombok Tengah #Prajurit TNI Gugur #Papua #Pratu Dedi Hamdani