Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
Satu hari sebelum pertunjukan dimulai, sepuluh siswa SLBN 1 Lombok Timur mengikuti latihan terakhir pementasan wayang botol dengan riang gembira. Mereka seperti tak sabaran ingin segera menunjukkan kebolehannya di panggung pertunjukan.
“Saya sudah sangat siap,” kata Lalu Arya, siswa tunarungu SLBN 1 Lotim dengan bahasa isyarat pada Lombok Post.
Lalu Arya, dan tiga rekan tunarungunya menjadi dalang dalam pertunjukan. Seperti Arya, kesiapan yang sama dikatakan oleh Dinas Cahaya Ramdani. Dimas yang merupakan siswa tunadaksa akan menjadi narator bersama tiga siswa lainnya.
Guru SLBN 1 Lombok Timur K Yulmi Nursastika menerangkan, semua ‘tuna’ terlibat dalam pementasan tersebut. “Di sini ada tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, dan autis. Semuanya bergabung dalam pertunjukan,” ujarnya.
Jangan salah, mereka tidak akan pentas di sekolah. Melainkan di gedung tertutup Taman Budaya NTB. Pertunjukan itu dalam acara pentas seni siswa SLB se- NTB. “Anak-anak akan tampil besok malam (nanti malam, red),” jelas Yulmi.
Kepala SLBN 1 Lotim Takariyanto mengatakan, pertunjukan tersebut sebagai upaya menunjukkan kelebihan yang dimiliki siswanya. Kendati di tengah masyarakat mereka memiliki keterbelakangan, namun pada dasarnya mereka memiliki kelebihan.
“Kita harus memberikan kesempatan pada mereka untuk mengatakan, saya juga bisa seperti anak normal lainnya,” ujar Takariyanto.
Fitri Rachmawati dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak mengaku takjub pada anak-anak berkebutuhan khusus di SLBN 1 Lotim. Dari proses pendampingan pementasan wayang botol yang dilakukan, ia memandang kesenian dapat menjadi terapi bagi ABK.
“Saya melihat keceriaan dan kepercayaan diri anak-anak saat memainkan wayang botol ini,” kata Fitri.
Menurut Fitri, pementasan wayang botol oleh ABK yang dilakukan siswa SLBN 1 Lotim akan menjadi pementasan wayang pertama di NTB. Terutama pementasan yang melibatkan seluruh siswa dengan jenis keterbelakangannya masing-masing. (*/r5) Editor : Administrator