ALI ROJAI, Mataram
BUYUNG, begitu orang sekitar memanggilnya. Pria 51 tahun ini banyak bergaul dengan budayawan. Sehingga dia tahu betul nama tokoh budayawan yang cukup sesohor di pulau seribu masjid ini. H Lalu Nasib salah satu dari 40 dalang di NTB yang cukup sesohor. Namanya tidak hanya dikenal di kalangan orang tua, namun juga anak-anak sejak masa pemerintahan orde lama.
Dengan kepiawaiannya sebagai seorang dalang wayang Sasak, namanya mendapat tempat di hati masyarakat. Kerap kali pentas wayang disajikan membuat masyarakat terhibur. “Endak ada orang yang tidak kenal Lalu Nasib,” kata pria yang kini tinggal di Pagutan, Kota Mataram ini.
Ide mengabadikan karya H Lalu Nasib dalam bentuk buku sejak dua tahun lalu. Dari semua dalang di NTB ini, nama dalang dari Gerung, Lombok Barat menjadi primadona. Menurutnya, banyak orang yang ditokohkan di NTB karena memiliki kepiawaian. Begitu juga dengan Lalu Nasib yang namanya cukup akrab ditelinga masyarakat lewat aksinya sebagai dalam wayang Sasak. “Dulu kalau Lalu Nasib pentas pasti ditunggu masyarakat,” cetus pria kelahiran 1971 ini.
Begitu populernya nama Lalu Nasib waktu itu. Meski demikian dia tidak memanfaatkan namanya yang cukup sesohor ditengah masyarakat untuk kepentingan politik. Justru yang ada Lalu Nasib sebagai penyambung lidah pemerintah. Banyak program pemerintah yang diselipkan pada pementasan wayang Sasak dilakoninya. “Dulu ada program KB (keluarga berencana) yang diselipkan,” cetusnya.
Tak hanya itu, keberhasilan program Gogo Rancah untuk menyiasati daerah yang minim air tidak lepas dari kepiawaian sang maestro wayang Sasak ini. Program ini diselipkan melalui pementasan wayang Sasak.
Buyung menulis buku dengan judul 50 Tahun Berkarya Maestro Dalang Wayang Sasak H Lalu Nasib. Waktu itu kata dia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan membuka program bantuan pemerintah berupa Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK).
Program ini merupakan bantuan pemerintah yang diberikan kepada komunitas budaya dan lembaga kemasyarakatan yang bergerak dibidang kebudayaan dalam rangka melakukan dokumentasi karya atau maestro dan pendayagunaan ruang publik untuk kemajuan kebudayaan. Dari 9 ribu pengusul se-Indonesia, hanya 130 karya yang lulus. “Waktu itu hanya saya yang ambil penulisan,” cetusnya.
Menurutnya, jika berbicara tentang dalang Lalu Nasib banyak yang unik dan menarik. Namun di sini dia hanya mengambil sisi edukasinya dengan membuat buku 146 halaman. Dulu kata dia, jika anak diminta menggambar di sekolah pasti akan membaut tokoh superhero dari luar seperti Superman, Captain Marvel, Batman, dan beberapa superhero lainnya.
Sementara di Indonesia banyak juga superhero. Seperti di Jakarta ada si Pitung. Bahkan nama Lalu Nasib bisa masuk dalam superhero tersebut. Karena dulu pementasan wayang Sasak menggunakan bahasa kawi. Setelah ada Lalu Nasib diterjemahkan menjadi bahasa Sasak.
Bahkan membuat sejumlah tokoh pewayangan yang membuat makin diminati masyarakat. “Sekarang kalau anak di sekolah diminta menggambar banyak yang membuat tokoh pewayangan. Secara tidak langsung di sini ada nilai edukasi-nya,” jelas pria yang lahir di Alas, Sumbawa ini.
Buyung kadang juga miris melihat tidak adanya program pemerintah daerah bagaimana membuat buku tentang tokoh budaya atau lainnya. Karena banyak sekali tokoh budaya dan agama yang menjadi primadona. “Mumpung mereka (tokoh) masih ada, mari kita abadikan,” pungkas bapak dua anak ini. (*/r3)
Editor : Administrator