Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perajin Gerabah di Desa Penujak Loteng di Tengah Pandemi Covid-19

Rury Anjas Andita • Jumat, 4 Maret 2022 | 17:30 WIB
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
SATU per satu wajan dan piring yang terbuat dari tanah liat dijajar di halaman rumah Lalu Wiramaye. Walau akses pasar semakin tak menentu, namun beberapa perajin gerabah masih bertahan.

----

Lalu Wiramaye merupakan satu dari sekian banyak perajin gerabah asal Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah yang masih bertahan menjalankan usahanya. Itu karena, sudah tiga gelombang bencana yang menerjang para perajin.

Sehingga kondisi mereka saat ini ibarat pepapah hidup segan, mati tak mau. Mereka tetap berusaha bertahan. Memanfaatkan akses-akses pasar lokal.

Pertama, saat bom Bali tahun 2002 silam. Aksi pengeboman di Pulau Dewata tersebut berdampak pada permintaan gerabah yang turun drastis.

Bahkan sampai sekarang masih dirasakan. Tidak ada perubahan sama sekali. Sebelum bom Bali, permintaan gerabah luar biasa tinggi. Apalagi, hasil kerajinan itu tidak saja digunakan warga Bali. Melainkan, dijual kembali ke sejumlah negara di dunia. Bahkan beberapa daerah di Indonesia. Itu dengan harga tinggi.

“Benar-benar luar biasa pengaruh bom Bali itu. Tidak akan pernah kami lupakan sampai kapan pun,” keluh Miq Maye -panggilan kesehariannya- pada Lombok Post.

Karena dari penjualan gerabah ke provinsi tetangga tersebut, para perajin bisa membangun rumah yang layak, bisa membeli motor hingga mobil, membeli tanah hingga menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Namun pascabom tersebut terjadi, motor dan tanah dijual, hingga anak-anak terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya. “Kedua, diperparah lagi saat gempa tahun 2018 lalu,” lanjut Miq Maye.

Ketiga, semakin diperparah dan tinggal menunggu waktunya saja satu per satu perajin gerabah tutup usia, alias gulung tikar. Itu setelah, diterjang pandemi Covid-19. Jika pemerintah berdiam diri saja, maka Desa Penujak sebagai sentra gerabah terbaik dunia akan musnah, tinggal cerita semata.

Kerajinan gerabah di Desa Penujak sendiri dimulai sejak tahun 1980 silam. Kala itu, sebagian besar warga di 18 dusun se-Desa Penujak bermata pencarian sebagai perajin gerabah. Seiring perkembangan waktu akibat bencana tersebut, jumlah perajin terus menyusut hingga sekarang.

Yang masih bertahan tinggal lima dusun saja. Yakni Dusun Toro, Dusun Nando, Dusun Tongkeh, Dusun Kangi, dan Dusung Adong. Itu pun perajinnya bisa dihitung dengan jari tangan. Sedangkan salah satu dusun yang pertama kalinya memperkenalkan kerajinan gerabah yakni Dusun Mantung sudah tinggal kenangan.

Para perajin sudah beralih profesi. Ada yang sebagai petani, buruh tani, nelayan hingga terpaksa menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. “Seperti itulah kondisi kami sekarang,” ujarnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Loteng #perajin gerabah #Desa Penujak