Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Budidaya Madu Trigona di Punia, Khasiat Tinggi Banyak Dicari saat Pandemi

Administrator • Selasa, 24 Mei 2022 | 00:38 WIB
BERKHASIAT TINGGI: Madu Trigona yang dikembangkan oleh warga di Lingkungan Karang Kelayu Kelurahan Punia menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang membutuhkan dukungan pemerintah.( TONI/LOMBOK POST)
BERKHASIAT TINGGI: Madu Trigona yang dikembangkan oleh warga di Lingkungan Karang Kelayu Kelurahan Punia menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang membutuhkan dukungan pemerintah.( TONI/LOMBOK POST)
Madu menjadi salah satu minuman yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Tak heran banyak orang yang suka mengkonsumsi madu alami. Di Kota Mataram tepatnya di Kelurahan Punia, sejumlah warga sudah mulai membudidayakan madu jenis trigona.

 

HAMDANI WATHONI, Mataram

 

Suasana kediaman Buyung, salah satu warga Lingkungan Karang Kelayu Kelurahan Punia begitu asri. Tepatnya di belakang Masjid Ponpes Abu Hurairah dekat Kali Unus yang melintas di samping Universitas Mataram.

Rumahnya persis di pinggir kali. Dari rumahnya, Gedung Fakultas Teknik Unram juga bisa dilihat. Pepohonan rimbun membuat udara segar begitu terasa meski berada di tengah kota. Rumah Buyung terasa nyaman dihuni. Di tempat ini juga Buyung sejak 2017 tahun silam sudah mulai membudidayakan lebah trigona yang menghasilkan madu dengan khasiat tinggi. Namanya madu trigona.

“Sempat terhenti tapi mulai lanjut lagi di 2019 sampai sekarang,” tutur Buyung.

Ia kembali menekuni usaha madu trigona seiring dengan permintaan akan madu yang juga meningkat. Khususnya di masa pandemi Covid-19 dua tahun terakhir. Lantaran, madu trigona ini dirasakan sejumlah pelanggan mampu menjaga daya tahan tubuh sehingga bisa terhindar dari risiko buruk penularan Covid-19.

“Madu dari lebah trigona memiliki banyak keunggulan, kaya vitamin C, protein dan menghasilkan propolis yang bisa jadi antibiotic,” jelas Ramli, Ketua Perkumpulan Perlebahan Lombok Raya (PLORA) Kota Mataram kepada Lombok Post.

Cara mengkonsumsi madu trigona bisa dicampur dengan air jeruk , teh atau makanan lain. Madu jenis trigona memiliki asam organik, zat fitokimia dan asam glukonat yang lebih banyak dibandingkan madu lebah apis pada umumnya. Ini yang membuatnya dipercaya lebih berkhasiat. Selain itu, lebah jenis ini menghasilkan propolis dan pollen dengan jumlah yang jauh lebih besar.

“Langganan saya biasanya dari Kekalik, dan beberapa wilayah di Kota Mataram. Pelanggannya Alhamdulillah dari kalangan menegah ke atas karena memang harganya jualnya cukup tinggi dibanding madu umumnya,” beber Buyung.

Per 500 mili liter, madu trigona ini dijual dengan harga Rp 250-300 ribu. Ada juga kemasan 250 mili liter dijual dengan harga Rp 150 ribu. “Alhamdulillah pelanggan kami tetap mencari,” ungkapnya.

Hanya saja, kendala Buyung saat ini masih pada persoalan terbatasnya jumlah produksi. Ia hanya mampu menghasilkan dua sampai tiga liter madu trigona per tiga sampai empat bulan. Lantaran jumlah koloni atau tempat produksi madu masih terbatas karena terkedala modal.

Kemudian serbuk bunga yang dibutuhkan jenis lebah trigona yang tidak menggigit dan berukuran seperti lalat ini juga masih minim di Kota Mataram.

“Terkendala vegetasi. Rata-rata pohon di Mataram ini kan yang tinggi. Sementara lebah ini butuh jenis tanaman seperti bunga mata pengantin, Batavia, dombea. Sehingga bisa mendukung penyerbukan dari lebah trigona,” paparnya.

Sehingga Buyung dan anggota komunitas PLORA Kota Mataram berharap pemerintah banyak menanam pohon yang disukai lebah trigona. Selain menambah ruang terbuka hijau di Kota Mataram, pohon tersebut juga bisa member nilai ekonomis bagi warga. Khususnya pembudidaya madu lebah trigona.

“Peminatnya semakin banyak di Kota Mataram dan nilai ekonomisnya juga cukup menjanjikan,” tandas Ramli. (*/r3)

  Editor : Administrator
#Kota Mataram #Madu Trigona #Budidaya Madu Trigona