---
Sepuluh biji kerake yang baru saja selesai dibungkus terhidang rapi di atas meja. Dengan ramah, Hj Rohyati mempersilakan penulis koran ini untuk mencicipi jajanan khas Lombok yang berasal dari Kelayu, Lombok Timur itu.
“Kata orang tua saya, kerake dulunya dibungkus besar dengan pelepah pohon pinang,” kata Hj Rohyati memulai penjelasannya.
Sebelum terpikir untuk menjual kerake, Hj Rohyati sering membuat kerake sebagai buah tangan saudaranya yang hendak kuliah ke pulau Jawa. Kerake yang dibuat saat itu masih dalam ukuran yang cukup besar dan dari pelepah pohon pinang.
Perempuan kelahiran 1956 itu pun bercerita tentang asal mula usaha jajanan kerakenya. Pada tahun 1986, Hj Rohyati membeli sebuah mesin tepung. Harapannya, mesin itu akan menjadi usaha pertamanya. Namun ternyata, warga sekitar rumahnya yang saat ini berada di Lingkungan Kokok Lauk 2, Kelurahan Kelayu Selatan, Kecamatan Selong lebih senang menumbuk dari pada menggunakan mesin yang harus berbayar.
Dari mesin tepung itulah ide untuk memproduksi jajanan khas kerake dimulai. Kerake sendiri terbuat dari bahan tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa. Di masa itu, Rohyati muda berpikir untuk tidak membuat kerake dari pelepah pinang.
Karena akan dijual, ia pun membuat sebuah kemasan khusus. Kemasannya terbuat dari kulit jagung yang sudah dikeringkan dan diikat menggunakan tali dari bambu. “Bentuknya pertama lebih besar dari yang sekarang,” jelasnya.
Kerake yang diproduksi untuk dijual pertama kali kurang lebih sebanyak 3 kilogram tepung ketan. Nama ‘bagus rase’ saat itu belum ada. Dengan kemasan khas itu, kerake jualannya dipasarkan di seputaran Selong. Salah satunya minimarket Sinar Bahagia. Ternyata kerake itu laku keras. Dan tidak memakan waktu lama, usahanya berjalan lancar.
“Karyawan saya sampai 30 orang lebih. Setiap hari kami memproduksi sampai 45 kilogram. Sekitar 1.000 kerake,” kenangnya.
Kerake khas Kelayu itu tidak hanya laku keras di Lombok Timur. Tetapi juga selalu ludes di pasar Kota Mataram. Setiap hari ia mengirim kerake produksinya menggunakan angkutan umum, engkel jurusan Pancor-Mataram.
Sebagai industri rumahan pertama yang produksinya besar-besaran di Lombok Timur, Hj Rohyati kemudian memproduksi olahan makanan lainnya berupa jajanan pisang sale, keripik singkong, dan jajanan lainnya. Belakangan, beberapa karyawannya yang berhenti bekerja membuka industri rumahan sendiri di rumah mereka masing-masing.
Jika saat ini kita melihat Kelayu sebagai salah satu sentra industri rumahan pengolahan makanan khususnya jajanan di Lotim, maka Hj Rohyatilah yang mempeloporinya. Kini usaha tersebut masih tetap berjalan. Meski produksinya tak sebesar dulu, kerake ‘bagus rase’ tetap dicari para penikmatnya. “Bahkan masih ada yang pesan dan minta dikirimkan ke Malaysia,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita