Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Misteri ‘Tanjung Menangis’, Pantai Berbahaya di Pringgabaya, Lombok Timur

Rury Anjas Andita • Senin, 12 Juni 2023 | 13:30 WIB
RESMI DIBUKA: Sejumlah wisatawan saat menikmati objek wisata Tandung Andung di Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang, Loteng, Sabtu (15/1). (Dedi/Lombok Post)
RESMI DIBUKA: Sejumlah wisatawan saat menikmati objek wisata Tandung Andung di Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang, Loteng, Sabtu (15/1). (Dedi/Lombok Post)
TENANG tapi menghanyutkan. Istilah tersebut sangat menggambarkan Pantai Tanjung Menangis. Sudah banyak orang yang tenggelam saat berenang menikmati riak ombaknya yang bergulung kecil di permukaan, namun berputar deras di kedalaman. Sebenarnya ada apa dengan pantai yang dalam sebuah legenda disebut menjadi tempat terbunuhnya Putri Cilinaya itu?

----

Jusman, 37 tahun, pedagang di kawasan pantai Tanjung Menangis tak lagi melihat pengunjung yang ramai. Tak seperti hari-hari sebelumnya di akhir pekan. Di Sabtu siang yang cerah kali ini, tepat tujuh hari setelah empat orang pengunjung tenggelam di sana, Jusman kehilangan ratusan pengunjungnya.

Sembari menyuguhkan secangkir kopi hitam pada penulis koran ini, Jusman mengatakan pantai itu selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal. Terutama setiap akhir pekan, terhitung dari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Dalam tiga hari itu, ia mendapatkan hasil jualan sampai Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Di hari-hari tertentu seperti lebaran topat, ia pernah mendapatkan lebih dari Rp 10 juta. “Tapi sekarang sepi sekali. Dalam satu minggu ini, sehari dapat Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu,” kata Jusman.

Istrinya Susianti, 31 tahun, membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Ada dampak yang cukup besar dari peristiwa hilangnya nyawa empat orang warga Desa Lenek, Kecamatan Lenek di sana. Kata Susi, kalau peristiwa tenggelamnya anak dari Terara, Kecamatan Terara pada bulan Maret 2023 lalu tidak berdampak apa-apa.

Jusman menaksir jika kemungkinan sepinya pengunjung bisa jadi karena orang-orang yang selalu datang ke pantai itu adalah orang-orang Kecamatan Suralaga dan Lenek. Sehingga ketika ada warga dari Desa Lenek yang mengalami kecelakaan, hal itu membuat khawatir masyarakat di sana.

Lapak dagangan Jusman dan Susianti berada tak jauh dari lokasi tenggelamanya empat warga Lenek tersebut. Bahkan lebih dekat lagi dengan korban anak dari Terara.

Kata Jusman, memang ia dan pedagang lainnya selalu melarang pengunjung mandi di sana. Dia mengatakan, pantai itu ramai sebagai tempat nongkrong. Karena mereka membuat lapak-lapak sederhana di pinggir pantai. “Jika ada yang mandi pasti kami larang. Kalau yang empat kemarin itu, mereka menyendiri di ujung sana. Jadi tidak ada yang tahu,” jelasnya.

Di pintu masuk kawasan pantai, Lombok Post menemui Amaq Rusdian, 59 tahun, seorang nelayan yang dituakan di Dusun Ketapang. Amaq Rusdian menjelaskan jika misteri banyaknya kejadian di pantai itu dipercaya warga dari dua sudut pandang. Pertama secara mistik, kedua secara pengetahuan atau pemahaman mereka pada kondisi lautan dari sudut pandang sebagai nelayan.

“Memang di sana ada tebing. Lokasinya sekitar lima belas meter dari bibir pantai. Dan di sana, di muara itu tempat bertemunya arus selatan dan arus utara. Jadi arusnya besar sekali. Wajar jika berbahaya bagi orang yang tidak terbiasa atau apalagi anak-anak yang belum bisa berenang,” jelas Rusdian. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Pringgabaya #pantai tanjung menangis #Lotim