Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berkunjung ke Objek Wisata Tandung-Andung di Desa Lendang Ara, Kopang

Rury Anjas Andita • Sabtu, 24 Juni 2023 | 18:00 WIB
NUANSA RELIGIUS: Made Langkir tengah menunggu kedatangan pembeli, di Karang Jasi, Kelurahan Cilinaya, Kota Mataram, Selasa (26/1).
NUANSA RELIGIUS: Made Langkir tengah menunggu kedatangan pembeli, di Karang Jasi, Kelurahan Cilinaya, Kota Mataram, Selasa (26/1).
Tandung-Andung di Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang telah diresmikan. Siapa sangka lokasi yang dulunya kandang sapi, disulap menjadi desa wisata tak kalah dengan Ubud-Bali.

----

Lokasi wisata Tandung-Andung di Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang, Loteng dapat menjadi salah satu alternatif pilihan bagi masyarakat untuk menghabiskan masa libur anak sekolah. Area wisata ini menghadirkan berbagai macam spot menarik.

Mulai dari bendungan yang dimanfaatkan untuk wisata kapal karet. Beberapa berugak dapat digunakan pengunjung untuk beristirahat. Sementara anak-anak bisa bermain di kolam renang.

Tak kalah penting, latar belakang lokasi wisata ini para pengunjung dimanjakan dengan hijaunya perbukitan. Yang dibawahnya ada area persawahan berundak-undak. Laksana kawasan wisata Ubud di Bali.

Siapa sangka, sebelum menjadi lokasi wisata yang asri dan sejuk itu dulunya adalah kandang sapi. Tak ingin ini berlarut dan tak bermanfaat, melalui tangan dingin Ayun selaku kepala desa mengubah area kandang menjadi lokasi wisata yang tak kalah dengan suasana Ubud di Bali.

"Saya pernah bekerja di Bali, jalan-jalan ke area Ubud. Saya lihat ada kemiripan ditempat saya," kata Kepala Desa Lendang Are Ayun usai meresmikan lokasi wisata, kemarin (23/6).

Berawal dari itulah Ayun kemudian mendapat kepercayaan dan amanah dari masyarakat untuk menjadi kepala desa pada tahun 2019. Diskusi pun dilakukan dengan pemuda-pemuda desa setempat, bahwa desa mereka memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan.

"Akhirnya kita sepakat, tidak hanya fokus kembangkan sektor pertanian, tapi potensi sektor lain dengan membentuk pokdarwis," ucapnya.

Diakui, mengajak masyarakat untuk mengembangkan potensi desa di sektor pariwisata cukup sulit. Pandangan mereka masih melihat pariwisata adalah sesuatu yang negatif. Yang identik dengan minuman keras, pakaian seksi.

"Tapi saya sampaikan bukan itu, wisata kita ada keaslian dari masyarakat itu sendiri," kata alumnus D-3 Pariwisata STP Mataram ini.

Pendanaan pun dimulai pada tahun 2019 melalui dana desa, berlanjut pada tahun 2020 hingga 2021. Kurang lebih anggaran yang digelontorkan melalui dana desa sekitar Rp 800 juta.

Selanjutnya pihak desa ikhtiar untuk mendapat bantuan dana dari pemerintah pusat melalui Dinas Pariwisata Loteng. "Alhamdulillah kemudian kita diberikan amanah dari DAK sebesar Rp 6,8 miliar," tambah Ayun.

Kata Ayun, pengembangan desa wisata tidak hanya untuk area wisata seluas 2,7 hektare (ha). Namun sarana pendukung jalan hingga pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi wisata. "Tempat parkir, kios-kios warga untuk cinderamata," imbuhnya.

Mengembangkan area wisata ini, kata Ayun, butuh dukungan dari masyarakat. Berupa memanfaatkan lahan pribadi yang mereka miliki, untuk membangun apa yang mereka mampu bangun. "Nanti mereka juga yang mendapat manfaatnya," tukas bapak beranak tiga itu. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Tandung Andung #Loteng #ubud bali #Desa Wisata