LombokPost - Ingin bertani kini tidak perlu punya lahan yang luas. Pekarangan rumah yang terbatas bisa juga dimanfaatkan untuk menanam sejumlah sayur-sayuran.
Caranya dengan sistem hidroponik.
Nuruzzaman Karomi salah satunya. Mulai menggeluti pertanian hidroponik sejak tahun 2017.
"Saya tertarik menanam dengan sistem itu, karena ada di YouTube anggota majelis masjid menanam menggunakan pipa. Hasilnya digunakan oleh jamaah langsung," kata pria yang akrab disapa Romi itu.
Dia pun mencoba untuk menanam dengan sistem tersebut. Membeli pipa dan sejumlah bibit.
"Saya hanya membuat delapan meter tempat menanam hidroponik," bebernya.
Awal membuka, banyak orang yang tidak menyangka, beberapa jenis sayur-sayuran bakal tidak bisa hidup. Tetapi, Romi terus berupaya dan belajar.
"Akhirnya sayur yang ditanamnya dengan sistem hidroponik berhasil. Meskipun, hasilnya maksimal," ungkapnya.
Seiring berjalanya waktu, Romi terus mengembangkan hidroponik. Warga sekitar bisa memanfaatkan hasilnya.
"Dari mulut ke mulut sejumlah warga banyak mengunjungi lokasi tempat menanamnya," kata dia.
Baca Juga: Rian Pratama, Petani Milenial di Lombok Tengah Raup Cuan dari Sayuran Hidroponik
Saking banyak warga yang berkunjung, Romi pun menamakan lokasi hidroponiknya bernama Al-Hidayah.
"Saya namakan itu sesuai dengan nama TPQ yang juga saya buat bersama istri," ungkapnya.
Tempatnya semakin berkembang. Romi membeli lokasi lahan kosong seluas 2 are.
"Alhamdulillah, kini lahan itu semakin berkembang dengan sistem hidroponik," ujarnya.
Setiap orang yang masuk ke lokasi hidroponik buatannya dikenakan tarif Rp 5 ribu.
"Orang yang berkunjung wajib membeli sayur-sayuran," ungkapnya.
Pada tahun 2019, sistem tanam hidroponik terus berkembang.
Mengingat saat itu terjadi Covid-19.
"Banyak orang yang datang belajar," kata dia.
Bahkan, beberapa masyarakat datang untuk belajar.
Dari situlah, Romi berusaha menyediakan peralatannya.
"Satu alat hidroponik dikenakan tarif Rp 1 juta," kata dia.
Permintaan bibit pun semakin banyak. Romi mencari tahu melalui internet.
"Dari situ saya pergi ke Jawa Timur untuk membeli bibit," ujarnya.
Tidak hanya beli bibit, pupuk dan peralatan lainnya juga dibeli.
"Kalau alat lainnya seperti pipa dan alat sedot air belinya langsung di wilayah Mataram," ungkapnya.
Pada saat Covid melanda, Romi menerima banjir pesanan. Sebab, dirinya tidak hanya membuat hidroponik.
"Kami juga berikan metode menanam hidroponik. Per alat hidroponik saya ambil tarif Rp 1 juta. Itu beserta mendapatkan sosialisasi keilmuan," beber Romi.
Tujuannya agar proses penanaman hidroponik tetap berlangsung. Paling tidak bisa mempertahankan penanaman hidroponik.
"Ini juga bagian cara sosialisasi kepada masyarakat cara bercocok tanam sistem hidroponik," ujarnya.
Dengan adanya banyaknya pesanan, kini Romi mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya menjual hasil tanam hidroponik.
"Tetapi juga menjual sejumlah alat. Sampai sekarang saya masih jualan," kata dia.
Ada beberapa bibit yang dijualnya. Diantaranya, pakcoy, selada, dan lainnya.
"Kalau selada bibitnya kami impor dari Belanda," ujarnya.
Bibit sayur selada paling banyak yang dicari. Sebab, bibitnya berbeda dengan bibit selada lokal. "Kalau yang lokal agak pahit rasanya," ungkap Romi.
Sampai saat ini, dia dipercaya sebagai penjual bibit selada Belanda.
"Satu bungkus itu berisi 1.000 bibit," bebernya.
Sementara kalau pupuk dibeli di wilayah Banyuwangi. Namanya AB-Mix.
"Fungsi AB-Mix itu sebagai unsur haranya. Karena kan kalau sistem tanam hidroponik tidak menggunakan media tanah," terangnya.
Pupuk tersebut nantinya dicampur dengan air.
Selanjutnya, nanti airnya yang mengalir memberikan oksigen kepada sayur yang ditanam.
"Per liter dijual dengan harga Rp 27 ribu," bebernya.
Selain itu, yang dijual adalah Requol, pot, dan nutrisi.
"Semua itu sangat dibutuhkan untuk menghidupkan bibit sayur-sayuran," tandasnya. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida