LombokPost - Terminal Tipe A Mandalika juga sudah siap menyambut lonjakan pemudik pada arus mudik Lebaran 2026.
Memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang, otoritas terminal telah menyusun serangkaian langkah strategis, mulai dari pengecekan kelaikan armada hingga pembenahan fasilitas penunjang di area terminal.
Kepala Terminal Mandalika Marthen Tanone menyatakan, persiapan teknis sudah berjalan intensif.
Fokus utama pihaknya saat ini adalah memastikan seluruh bus yang beroperasi dalam kondisi layak jalan melalui inspeksi keselamatan atau ramp check.
“Persiapan kami meliputi pelaksanaan ramp check bus secara rutin. Kami juga memastikan seluruh armada masuk dan beroperasi di dalam terminal agar terpantau dengan baik,” kata Marthen, Senin (16/3).
Selain faktor keamanan armada, Marthen menekankan pentingnya aspek kenyamanan bagi para pemudik yang diprediksi akan memadati terminal dalam beberapa pekan ke depan.
Sejumlah fasilitas baru dan peningkatan layanan telah disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang dari berbagai kalangan.
“Untuk fasilitas, kami menyediakan ruang tunggu ber-AC agar penumpang merasa nyaman saat menunggu keberangkatan. Kami juga menyiapkan ruang laktasi khusus bagi ibu menyusui, serta memastikan akses dan sarana bagi pengguna jasa disabilitas tersedia dengan layak,” jelasnya.
Marthen juga menambahkan, pengawasan tarif tiket menjadi atensi khusus guna mencegah adanya praktik permainan harga oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Kami melakukan pengawasan ketat terhadap tarif tiket untuk menghindari terjadinya harga yang terlalu tinggi atau di atas ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Terkait koordinasi keamanan, Terminal Mandalika telah membentuk Posko Terpadu yang melibatkan instansi terkait guna memastikan kelancaran arus mudik dan balik tahun ini.
Berdasarkan data produksi Terminal Mandalika per 12 Maret 2026, tren pergerakan penumpang baik Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) maupun Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) mulai menunjukkan dinamika yang stabil menuju peningkatan.
Pada data terakhir (12/3), tercatat ada 10 armada bus AKAP yang berangkat dengan mengangkut 286 penumpang. Sementara untuk bus AKDP, jumlah keberangkatan mencapai 25 armada dengan total 625 penumpang. Jika dibandingkan dengan awal Maret, angka ini menunjukkan grafik yang merangkak naik, di mana pada 1 Maret keberangkatan AKDP hanya berada di angka 16 armada dengan 402 penumpang.
Marthen mengimbau kepada masyarakat agar melaporkan jika menemukan adanya agen atau bus yang menarik tarif melebihi ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah. “Masyarakat tidak perlu khawatir. Posko terpadu kami terbuka 24 jam. Kami ingin memastikan mudik tahun 2026 ini berjalan aman, nyaman, dan berkesan bagi seluruh warga NTB,”pungkasnya.
Tiket Bus Ludes
Salah satu rute paling sibuk, yakni Mataram-Bima. Meski tarif merangkak naik, minat masyarakat untuk pulang kampung tetap tak terbendung. Hal ini terbukti dengan ludesnya kursi di sejumlah Perusahaan Otobus (PO).
Pantauan di lapangan menunjukkan perubahan tarif serentak mulai diberlakukan per 10 Maret 2026. Jika sebelumnya harga tiket dibanderol Rp 250 ribu, kini penumpang harus merogoh kocek hingga Rp 350 ribu untuk perjalanan menuju Bima.
Kenaikan tarif ini memicu tanya di kalangan calon penumpang. Pasalnya, terdapat perbedaan harga yang cukup mencolok antara tarif mudik dan tarif balik. Untuk rute Bima-Mataram (arus balik), harga tiket berada di kisaran Rp 300 ribu, lebih murah Rp 50 ribu dibandingkan rute Mataram-Bima untuk arus mudik.
Erik, agen tiket PO Prima Jaya di Terminal Tipe A Mandalika Mataram membenarkan fenomena tahunan ini. Menurutnya, hukum pasar berlaku di mana tingginya permintaan dari Mataram menuju Bima menjadi pemicu utama kenaikan harga. "Ya, seperti itulah biasanya. Karena kalau mudik, banyak sekali orang yang pesan tiket dari sini (Mataram)," bebernya, Minggu (15/3).
Selain rute domestik NTB, lonjakan harga juga terjadi untuk rute antar-pulau. Seperti Mataram-Surabaya yang kini menyentuh angka Rp 600 ribu per kursi, dari sebelumnya di kisaran Rp 500 ribuan.
Meski harga naik, urusan pulang kampung tetap menjadi prioritas warga. Erik menyebutkan tingkat keterisian bus (occupancy) saat ini sudah menyentuh angka 100 persen alias full booking.
"Sementara ini, dari tanggal 10 sampai 19 Maret sudah penuh terus. Tiket sudah banyak dipesan lebih awal melalui sistem booking," jelas Erik. (chi/fer/r3)
Editor : Kimda Farida