Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peluang Usaha Jadi Lebih Mudah, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Geumerie Ayu • Sabtu, 2 Mei 2026 | 13:38 WIB
SUKSES: Owner Nutsafir Sayuk Wibawati menunjukkan produk yang ada di rumah produksinya. (Istimewa)
SUKSES: Owner Nutsafir Sayuk Wibawati menunjukkan produk yang ada di rumah produksinya. (Istimewa)

LombokPost – Digitalisasi telah menjadi katalisator utama yang mengubah wajah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di NTB.

Tak lagi sekadar jago kandang, para pelaku usaha lokal kini mampu melompati batas negara dan menjangkau konsumen internasional hanya melalui layar gawai. 

Bukan lagi sekadar tren, melainkan strategi bertahan dan berkembang yang sangat nyata di tengah kompetisi pasar global.

Baca Juga: Suzuki New Alto, Kendaraan Ringan yang Super Irit

Contohnya kisah sukses UMKM Nutsafir Cookies di Mataram dan Baiq Local Corner di Lombok Tengah. Ini menjadi bukti otentik bagaimana platform digital dan e-commerce mampu menyulap komoditas lokal dan limbah menjadi barang ekspor bernilai tinggi.

Berawal dari sebuah keinginan sederhana seorang ibu untuk menyajikan camilan bergizi bagi sang buah hati, Sayuk Wibawati merintis Nutsafir Cookies pada 11 September 2012.

Mengawali perjalanan dari garasi dan halaman rumah dengan modal awal sebuah oven manual, Sayuk perlahan menyulap komoditas pertanian lokal seperti kacang hijau, jagung, lebui, hingga melinjo menjadi kue kering premium bernutrisi tinggi.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Drakor Terbaru Mei 2026 Beserta Sinopsisnya, Mulai dari Pahlawan Super Netflix Hingga Kisah Koki Militer yang Viral

Perjalanan Sayuk penuh dengan tantangan teknis. Selama tiga tahun pertama, adonan dibuat sepenuhnya secara manual hingga menyebabkan tangan para karyawan kerap mengalami kram.

Namun, titik balik terjadi saat teknologi mesin mulai diadopsi. Kapasitas produksi dan efisiensi waktu melonjak hingga 75 persen ketika Nutsafir mulai menggunakan mesin pengaduk dan giling berkapasitas 300 kilogram per jam, serta beralih ke oven digital berkapasitas besar.

Kekuatan utama Nutsafir kini terletak pada pemanfaatan digital marketing. Sejak mengelola toko daring secara serius, Nutsafir mencatatkan performa luar biasa. Penjualan meningkat hingga 600 persen melalui platform digital.

Baca Juga: Wuling Cloud EV Pro 2026, Kendaraan Minimalis yang Elegan

Sejak awal 2025, pesanan dari Malaysia mulai membanjir. Produk ini telah menembus pasar ritel Asia di Australia, Adelaide (Australia Selatan) dan beberapa kota di Selandia Baru.

Nutsafir memiliki 10 varian rasa yang mampu bertahan 16 bulan tanpa pengawet serta mengantongi Sertifikat Bintang Satu Keamanan Pangan dari BPOM.

Di balik omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan, Sayuk memiliki misi mulia dengan mempekerjakan 100 persen tenaga kerja perempuan untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

Baca Juga: Dunia Digital seperti Pisau Bermata Dua, Bentengi Masyarakat dengan Literasi dan Edukasi digital

Kesuksesan lainnya datang dari pelaku UMKM lainnya, Baiq Andrea asal Desa Beleka, Lombok Tengah.

Sempat mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari kapal pesiar akibat pandemi Covid-19, Andrea justru menemukan peluang emas dari limbah kerang pantai dan kain perca.

Melalui brand Baiq Local Corner, ia membangun ekosistem bisnis rumahan yang kini menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Baca Juga: Suzuki Baleno, Hatchback Modern Berfitur Mewah yang Kompetitif

Andrea menyadari, oleh-oleh khas Lombok seringkali identik dengan harga mahal. Ia pun menciptakan alternatif aksesoris seni yang terjangkau bagi semua kalangan dengan memadukan kerang, kain perca, dan anyaman ketak.

Keberhasilan Local Corner menembus pasar internasional bertumpu pada optimalisasi platform e-commerce selama lima tahun terakhir.

Dengan sistem digital, Andrea mampu rutin ekspor. Melalui Program Layanan Ekspor Shopee, produknya rutin dikirim ke Singapura, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand.

Baca Juga: Minta Pembayaran Fleksibel Untuk Produk UMKM

Pesanan ekspor seringkali mencapai 1.000 unit aksesoris dalam sekali kiriman. Sistem digital memudahkan UMKM kecil untuk go international tanpa terbebani urusan logistik yang rumit.

Meskipun menyasar pasar luar negeri, Andrea tetap mempertahankan harga kompetitif mulai dari Rp 8.000 untuk aksesoris hingga Rp 300.000 untuk tas anyaman ketak.

Dari lini produk tas ketak saja, ia mampu mengantongi penghasilan bulanan mencapai Rp 15-20 juta.

Baca Juga: Nissan Gravity, MPV 7-Seater Mewah Berkabin Luas

Keberhasilan kedua pelaku UMKM perempuan NTB ini menyoroti beberapa manfaat krusial platform digital bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan. 

Platform digital menghapus sekat geografis, memungkinkan produk dari desa terpencil di Lombok menjangkau konsumen di Adelaide atau Kuala Lumpur.

Editor : Prihadi Zoldic
#Baiq Local Corner #nutsafir #UMKM NTB #platform digital #ekspor